SUKABUMI — Persoalan sampah di Kota Sukabumi tak cukup diselesaikan dengan mengandalkan petugas kebersihan dan tempat pembuangan sementara (TPS). Perubahan justru harus dimulai dari lingkungan paling bawah, yakni tingkat rukun tetangga (RT).
Hal itu disampaikan istri Wakil Wali Kota Sukabumi sekaligus aktivis lingkungan hidup Restoe Boemi, Kia Florita, usai memberikan sosialisasi persampahan kepada para ketua RT dan RW di Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Selasa (1/9/2026).
Kia mendorong agar setiap RT memiliki satuan tugas (Satgas) yang secara langsung menangani sampah warga. Sistem tersebut dinilai penting agar sampah tidak lagi tercampur sebelum akhirnya dibuang ke TPS.
“Saya menyarankan untuk setiap ke-RT-an, sampah itu sudah diambil langsung oleh setiap Satgas. Sehingga sampah organik, nonorganik, dan residu sudah terpilah masing-masing,” kata Kia.
Menurutnya, pemilahan dari sumber merupakan kunci. Jika sampah sudah tercampur sejak dari rumah, proses pengolahan di tingkat berikutnya menjadi jauh lebih sulit.
Karena itu, pola lama “kumpul, angkut, buang” yang selama puluhan tahun menjadi kebiasaan masyarakat harus mulai ditinggalkan. Kia mengakui mengubah kebiasaan tersebut bukan pekerjaan mudah.
Kesadaran masyarakat tidak bisa dibangun dalam waktu singkat karena pola membuang sampah selama ini telah mengakar menjadi budaya.
“Alhamdulillah kesadaran masyarakat memang pelan-pelan. Ini memang sudah menjadi budaya buat kita sendiri karena sudah puluhan tahun masyarakat itu sistem kumpul, angkut, buang,” ujarnya.
Namun, kondisi tersebut menurutnya tidak boleh menjadi alasan untuk menunda perubahan. Masyarakat harus terus diedukasi agar memahami bahwa persoalan sampah bukan semata-mata urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari rumah masing-masing.
“Untuk menyadarkan masyarakat memang butuh waktu yang sangat luar biasa panjang. Tapi kita harus tetap bergerak. Kalau bukan dari sekarang, kapan lagi? Kalau bukan dari kita, siapa lagi,” tegasnya.
Belajar dari Kelurahan Subangjaya
Gagasan pembentukan Satgas di setiap RT bukan tanpa contoh. Kia menyebut sistem serupa telah diterapkan di Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole.
Menurutnya, pola pengelolaan dari tingkat RT tersebut telah menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat ditangani lebih dekat dengan sumbernya.
“Harapan saya seperti itu, setiap ke-RT-an ada Satgas masing-masing sehingga penyelesaian sampah dimulai dari bawah, langsung dari ke-RT-an,” katanya.
Ia berharap keberhasilan tersebut dapat direplikasi di kelurahan lain di Kota Sukabumi. Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak lagi hanya bertumpu pada sistem pengangkutan menuju TPS atau tempat pembuangan akhir.
Perangkat Daerah Diminta Turun Langsung
Kia menilai perubahan pola pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat paling bawah.
Menurutnya, sosialisasi dari pemerintah di tingkat atas saja tidak akan cukup. Ketua RT dan RW harus menjadi penggerak langsung di tengah masyarakat karena mereka yang paling dekat dengan warga.
“Memang ini tidak mudah. Tapi harus dari perangkat daerah masing-masing. Kalau tidak dari ke-RT-an, kalau hanya dari atas agak sulit juga. Jadi dari ke-RT-an harus turun langsung,” pungkasnya.
Lurah Sukakarya Sri Andayani terus mendorong penerapan pemilahan sampah berbasis masyarakat melalui kegiatan sosialisasi yang menyasar 49 RT dan 13 RW.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran warga dalam nemilah sampah sejak dari lingkungan tempat tinggal
“Saat ini, Kelurahan Sukakarya baru memiliki satu Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang berada di wilayah RW 3,” ujarnya.
TPS3R tersebut lanjut dia, sudah beroperasi, namun kapasitasnya belum mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat di wilayah kelurahan.
Keterbatasan kapasitas tersebut juga dipengaruhi oleh minimnya sumber daya manusia, karena saat ini pengelolaan TPS3R hanya ditangani oleh tiga orang petugas.
“Pemilahan sampah dari sumbernya dinilai menjadi langkah penting agar sampah organik dan anorganik dapat dipisahkan sebelum masuk ke tempat pengolahan,” pungkasnya.












