SUKABUMI – Pondok Pesantren Dzikir Alfath meresmikan Museum Keramik dan gedung baru Museum Prabu Siliwangi di Sukabumi, Kamis (6/8/2026). Peresmian dilakukan oleh Direktur Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI serta disaksikan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Jawa Barat, Wakil Wali Kota Sukabumi, dan sejumlah tokoh budaya.
Pimpinan Pondok Pesantren Dzikir Alfath, KH Fajar Laksana, mengatakan pemindahan museum dilakukan setelah koleksi benda bersejarah di lokasi tersebut menjalani penelitian berulang oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
“Sudah enam kali diteliti BRIN. Semua benda sudah dipilah, diidentifikasi, dan ternyata memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Karena gedung lama sudah tidak representatif, akhirnya dipindahkan ke gedung yang baru,” kata Fajar.
Menurutnya, hasil kajian para arkeolog dan sejarawan BRIN merekomendasikan agar koleksi keramik dipisahkan dari Museum Prabu Siliwangi. Alasannya, jumlah dan nilai sejarah koleksi keramik dinilai sangat penting sehingga membutuhkan ruang pamer tersendiri.
“Keramiknya sudah hampir mencapai 500 jenis. Para ahli meminta agar tidak digabung lagi dengan Museum Prabu Siliwangi. Akhirnya kami membangun Museum Keramik secara khusus,” ujarnya.
Fajar menjelaskan, museum yang diresmikan hari ini menjadi tempat penyimpanan koleksi keramik yang telah melalui proses identifikasi ilmiah. Sementara Museum Prabu Siliwangi juga kini menempati gedung baru yang lebih representatif untuk menampilkan artefak sejarah.
Salah satu koleksi paling berharga di Museum Keramik adalah keramik yang berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi. Koleksi tersebut berasal dari Dinasti Tang, Dinasti Song, hingga keramik asal Timur Tengah dari Mesir yang dikenal sebagai Torpedo Jar.
“Keramik tertua berasal dari abad ke-8 sampai abad ke-10. Ada dari Dinasti Tang, Dinasti Song, dan juga keramik Timur Tengah dari Mesir yang ditemukan dari kapal tenggelam,” ungkapnya.

Hingga saat ini, BRIN telah mengidentifikasi 368 koleksi keramik yang dipastikan asli dan memiliki nilai arkeologis tinggi. Koleksi tersebut bahkan telah dibukukan dalam Katalog Keramik sebagai hasil penelitian akademik.
“Kesimpulannya, sejak abad ke-10 Masehi Nusantara sudah memiliki hubungan perdagangan dengan Tiongkok. Buktinya ada pada koleksi keramik yang kami miliki,” katanya.
Meski demikian, proses penelitian belum selesai. Dari sekitar 1.000 koleksi keramik yang dimiliki museum, masih terdapat sekitar 500 benda yang akan menjalani identifikasi lanjutan. Sebagian di antaranya telah dipastikan merupakan replika sehingga dipisahkan dari koleksi asli.
“Kami tidak lagi hanya memajang benda untuk pelestarian, tetapi semuanya harus berdasarkan penelitian ilmiah. Yang sudah teridentifikasi ada 368 koleksi, sedangkan sekitar 500 lainnya masih akan diteliti lebih lanjut,” pungkas Fajar.












