SUKABUMI – Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar. Anggota Komisi III DPRD Kota Sukabumi, Danny Ramdhani, menilai budaya membaca di Indonesia belum terbentuk secara kuat sehingga masyarakat, khususnya generasi muda, lebih tertarik menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial dibandingkan membaca buku.
Hal itu disampaikan Danny usai mengikuti kunjungan kerja Komisi III DPRD Kota Sukabumi dalam pembahasan rencana anggaran tahun 2027 bersama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi di ruang pertemuan Dispusipda, Jalan Perpustakaan, Kota Sukabumi, Senin (27/7/2026).
Politisi PKS tersebut menjelaskan, rendahnya minat baca dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya karena kebiasaan membaca belum menjadi budaya yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.
“Masih banyak anak yang tumbuh tanpa melihat orang tua atau lingkungan sekitarnya memiliki kebiasaan membaca buku. Akibatnya, budaya membaca tidak terbentuk secara kuat,” ujarnya.
Selain itu, menurut Danny, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Kehadiran gawai dengan beragam konten video pendek dan media sosial menawarkan hiburan instan yang lebih menarik dibandingkan membaca buku yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.
Ia juga menyoroti belum meratanya akses terhadap bahan bacaan. Di sejumlah daerah, keberadaan perpustakaan masih terbatas, koleksi buku belum memadai, toko buku sulit dijangkau, sementara harga buku dinilai masih relatif mahal bagi sebagian masyarakat.

Danny menambahkan, sistem pendidikan juga perlu mendorong perubahan cara pandang terhadap aktivitas membaca. Selama ini, membaca masih sering diposisikan sebagai kewajiban untuk menghadapi ujian, bukan sebagai kebiasaan yang menyenangkan untuk memperluas pengetahuan dan wawasan.
Di sisi lain, kesibukan masyarakat dalam bekerja juga membuat waktu luang lebih banyak dimanfaatkan untuk beristirahat atau mencari hiburan dibandingkan membaca buku.
Sementara itu, pembahasan rencana anggaran tahun 2027 bersama Dispusipda Kota Sukabumi menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program dan kegiatan yang akan dijalankan dalam meningkatkan layanan perpustakaan dan kearsipan di Kota Sukabumi.
Untuk memaksimalkan dan memudahkan pelayanan kepada masyarakat apalagi jika melihat kondisi gedung Dispusipda Kota Sukabumi yang memiliki tiga lantai, DPRD juga menyarankan agar di gedung ini dibuatkan lift sebagai pintu penghubung setiap lantai. Selain itu, DPRD juga mendorong agar ketersediaan buku baru wajib diadakan minimal sekali dalam setahun.
Melalui koordinasi tersebut, DPRD dan Dispusipda berharap perencanaan anggaran yang disusun dapat berjalan efektif, tepat sasaran, serta mampu mendorong penguatan budaya literasi dan peningkatan kualitas layanan kearsipan bagi masyarakat Kota Sukabumi.












