SUKABUMI – Salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Sukabumi, yakni SPPG Karangtengah 2, Kecamatan Gunungpuyuh, mulai menerapkan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mengacu pada regulasi Badan Gizi Nasional (BGN). Penerapan ini dilakukan untuk memastikan limbah dapur tidak mencemari lingkungan sekitar.
Asisten Lapangan SPPG Karangtengah 2, Indra Pribadi, mengatakan sejak awal operasional dapur, pihaknya telah berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi.
“Sejak awal kita membuka dapur ini, kita sudah melakukan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk DLH. Untuk pembangunan IPAL ini, seluruh proses kita mengikuti saran yang diberikan, mulai dari desain hingga layout,” ujar Indra, Senin (27/04).
Ia menjelaskan, sistem IPAL yang diterapkan saat ini masih terus disempurnakan. Dalam waktu dekat, DLH Kota Sukabumi dijadwalkan akan melakukan pengujian terhadap kualitas air limbah yang telah melalui proses penyaringan.
“Rencananya besok akan dilakukan pengetesan oleh DLH. Dari situ nanti akan diketahui apakah air limbah ini layak atau tidak untuk dibuang ke aliran sungai setelah melalui proses penyaringan,” jelasnya.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen SPPG untuk menjaga kelestarian lingkungan. Pihaknya memastikan tidak ingin aktivitas dapur yang dijalankan justru menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat sekitar.
“Kami tidak ingin mencemari lingkungan akibat limbah dapur. Alhamdulillah sejak awal beroperasi, belum pernah ada komplain dari masyarakat terkait limbah,” ungkapnya.
Dalam pengelolaan limbah, SPPG Karangtengah 2 menggunakan sistem penyaringan berlapis yang terdiri dari enam kolam. Setiap kolam memiliki fungsi berbeda dalam menyaring limbah sebelum akhirnya dialirkan keluar.
“Prosesnya bertahap. Dari air bekas pencucian masuk ke penyaringan awal, lalu ke grease trap untuk menyaring lemak, kemudian ke bak kontrol, hingga mengalir ke kolam berikutnya sampai kolam keenam,” paparnya.
Menariknya, hasil akhir dari penyaringan tersebut dialirkan ke kolam ikan sebagai indikator alami kualitas air. Hingga saat ini, kondisi ikan tetap hidup dan tidak menunjukkan tanda-tanda pencemaran.
“Sampai sekarang tidak ada ikan yang mati setelah dialiri air limbah yang sudah disaring. Ini menjadi indikator bahwa sistem yang kita gunakan berjalan dengan baik,” pungkasnya.












