SUKABUMI – Polemik rencana pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 345 Maung Sancang di kawasan eks-Hak Guna Usaha (HGU) PTPN 1 Regional 2, Baru Ajol, Desa Sudajaya Girang, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, diharapkan tidak berujung pada perpecahan. Dialog dan keterbukaan dinilai menjadi jalan terbaik untuk mencari solusi yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.
Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0607 Sukabumi, Mayor Arm Nanda Supriyatna, secara terbuka mengajak warga, petani, komunitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, hingga insan pers untuk duduk bersama membahas rencana pembangunan tersebut.
Ajakan ini muncul menyusul adanya penolakan dari sejumlah petani yang khawatir kehilangan lahan garapan yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.
Nanda menegaskan, pihaknya memahami kekhawatiran masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka dengan mengedepankan kepentingan bersama, bukan saling berhadapan.
“Daripada demo di jalan atau sekadar menyampaikan penolakan, lebih baik kita duduk bersama. Bagaimana program pemerintah ini bisa berjalan, tetapi juga memberikan kemanfaatan dan kebaikan bagi masyarakat,” ungkap Nanda.
Ia menjelaskan, rencana pembangunan Yonif TP 345 Maung Sancang merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat dalam mendukung pembangunan wilayah dan ketahanan pangan.

Sementara itu, terkait penentuan lokasi, prosesnya masih mengikuti mekanisme dan tahapan koordinasi dengan komando atas, kementerian, serta instansi terkait. Kawasan Baru Ajol menjadi salah satu lokasi yang telah melalui proses peninjauan dan pendataan. Namun, keputusan akhir penetapan lokasi tetap menjadi kewenangan pimpinan berdasarkan hasil kajian dan pertimbangan strategis.
Nanda juga menekankan pentingnya kejelasan status hukum dan administrasi pertanahan. Pihaknya menghormati kewenangan PTPN, ATR/BPN, serta instansi pemerintah terkait dalam menyelesaikan persoalan tersebut sesuai ketentuan perundang-undangan.
Di sisi lain, keberadaan masyarakat yang selama ini menggantungkan kehidupan dari aktivitas pertanian di kawasan tersebut juga harus menjadi perhatian dalam setiap tahapan proses selanjutnya.
“Kami memahami ada masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pertanian di kawasan itu. Ini tentu harus menjadi perhatian dan dipertimbangkan,” ujarnya.
Lebih jauh, Nanda menegaskan bahwa Kodim membuka pintu komunikasi seluas-luasnya bagi seluruh elemen masyarakat. Bahkan, pihaknya siap hadir dalam forum diskusi kapan pun diperlukan untuk menjelaskan persoalan berdasarkan informasi yang dimiliki.
Ia mencontohkan, sebelumnya sejumlah perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia (SEMI) telah melakukan audiensi ke Kodim. Dalam pertemuan tersebut, pihaknya menyampaikan penjelasan secara terbuka mengenai rencana pembangunan Yonif TP.
Nanda bahkan mempersilakan mahasiswa, LSM, maupun komunitas untuk melakukan pendalaman dan investigasi terhadap informasi yang berkembang, termasuk mencari data langsung kepada pihak-pihak berwenang.
“Silakan kita investigasi bersama. Barangkali informasi yang kami miliki juga belum sepenuhnya tajam. Justru akan lebih baik jika banyak unsur terlibat, mendapatkan data yang lengkap, sehingga ketika kita mengambil sikap untuk Sukabumi, arah, tujuan, dan fondasinya jelas,” tuturnya.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, komunikasi yang sehat harus tetap dibangun agar tidak muncul kesalahpahaman maupun informasi yang tidak utuh.

“Kami mengajak siapa pun untuk duduk bersama, membahas persoalan ini dengan kepala jernih, niat baik dan tulus, serta tujuan yang sama, yakni memajukan Sukabumi,” katanya.
Nanda berharap ruang diskusi tersebut dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kepentingan pembangunan dengan aspirasi masyarakat, khususnya para petani yang terdampak.
“Kalau kita punya kebersamaan dan satu tujuan, saya yakin selalu ada jalan yang baik. Tidak ada persoalan yang tidak bisa dicari penyelesaiannya selama kita mau berbicara dan duduk bersama,” pungkasnya.




