SUKABUMI – Perubahan angka desil masyarakat yang terjadi secara tiba-tiba kini menjadi keluhan warga Kota Sukabumi. Persoalan ini bukan sekadar perubahan angka dalam sistem pendataan, tetapi bisa berdampak langsung terhadap peluang masyarakat mendapatkan bantuan sosial (bansos).
Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi Partai Golkar, Feri Sri Astrina, mengungkapkan bahwa persoalan anomali desil menjadi salah satu aspirasi yang paling banyak disampaikan warga saat kegiatan reses di Kelurahan Lembursitu, Jumat (30/10/2026).
Menurut Feri, banyak warga mempertanyakan mengapa angka desil mereka tiba-tiba meningkat, padahal kondisi ekonomi yang mereka rasakan tidak mengalami perubahan berarti.
“Memang hari ini yang masih menjadi tren adalah terkait anomali desil. Banyak masyarakat yang desilnya tiba-tiba naik, sehingga mereka membutuhkan informasi dan penjelasan terkait persoalan tersebut,” ungkapnya.
Feri menilai persoalan perubahan data desil harus mendapat perhatian serius pemerintah. Jangan sampai masyarakat yang seharusnya berhak mendapatkan bantuan justru kehilangan kesempatan akibat perubahan data yang tidak dipahami penyebabnya.
Menurutnya, pemerintah melalui Dinas Sosial harus memberikan penjelasan secara terbuka, termasuk memastikan masyarakat mengetahui mekanisme pengaduan dan perbaikan data apabila ditemukan ketidaksesuaian.
Karena itu, dalam kegiatan reses tersebut Feri menghadirkan perwakilan Dinas Sosial agar warga bisa langsung menyampaikan keluhan sekaligus mendapatkan penjelasan.
Sebagai tindak lanjut, Dinas Sosial dijadwalkan menggelar program Gebrak Desil pada 10 November 2026 di Kelurahan Lembursitu.

Berbagai persoalan yang muncul dalam reses tersebut menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah pemerintah daerah, mulai dari akurasi data.
Feri berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan program dan pendataan administratif, tetapi juga memastikan setiap kebijakan benar-benar dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.




