SUKABUMI — Persoalan kebocoran air masih menjadi pekerjaan rumah besar Perumda Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi. Hingga Juli 2026, tingkat kehilangan air tercatat masih mencapai 59 persen, meski angka tersebut mulai menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
Direktur Utama Perumda Tirta Bumi Wibawa Kota Sukabumi, Dian Apriandi, mengatakan pihaknya terus melakukan pembenahan infrastruktur dan mendorong berbagai inovasi untuk menekan kebocoran sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi air kepada pelanggan.
Hal itu disampaikan Dian seusai mengikuti syukuran Hari Jadi ke-51 Perumda Tirta Bumi Wibawa sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jalan Bhayangkara, Jumat (29/8/2026).
Menurut Dian, tingkat kebocoran pada Juni 2026 masih berada di angka 60,01 persen. Angka tersebut kemudian turun menjadi sekitar 59 persen pada Juli.
“Untuk bulan Juni 60,01 persen, untuk bulan Juli kita di angka 59 persen,” kata Dian.
Meski mengalami penurunan, angka tersebut menunjukkan bahwa kehilangan air masih menjadi tantangan serius yang harus segera ditekan. Karena itu, pembenahan jaringan dan peningkatan efisiensi distribusi menjadi salah satu fokus utama perusahaan.
Di sisi lain, jumlah pelanggan PDAM justru menunjukkan pertumbuhan. Pada Juni 2026 tercatat sekitar 19.863 pelanggan aktif. Jumlah tersebut meningkat menjadi 19.878 pelanggan aktif pada Juli 2026.
“Jumlah pelanggan ada peningkatan. Untuk bulan Juni 2026 kurang lebih 19.863, untuk bulan Juli menjadi 19.878 pelanggan aktif,” ujarnya.
Tantangan PDAM tidak hanya datang dari tingginya kebocoran. Kondisi sumber air juga mulai mendapat perhatian, terutama di sumber Batukarut.
Dian mengungkapkan, secara umum sumber air yang dikelola Perumda Tirta Bumi Wibawa masih relatif aman dan belum mengalami penurunan signifikan. Namun, kondisi berbeda terjadi di Batukarut.
Biasanya, sumber tersebut mampu menghasilkan debit sekitar 150 liter per detik. Kini debitnya turun menjadi sekitar 110 liter per detik.
“Kalau sumber air secara keseluruhan, alhamdulillah belum ada penurunan yang signifikan. Tapi khusus di Batu Karut, biasanya 150 liter per detik, sekarang kurang lebih 110-an liter per detik,” jelasnya.
Penurunan debit tersebut menjadi alarm bagi PDAM, terlebih jika kondisi kekeringan berlanjut dan debit sumber air kembali turun. Untuk menjaga pasokan tetap mengalir kepada masyarakat, PDAM menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Salah satunya melalui rekayasa distribusi atau gilir air apabila pasokan air tidak mencukupi.
Selain itu, perusahaan akan mengoptimalkan sumber alternatif, termasuk mengaktifkan sumur bor yang tersedia. Pelayanan distribusi air menggunakan truk tangki juga disiapkan untuk kondisi tertentu.
“Kita melakukan rekayasa gilir air, kemudian mengaktifkan sumur-sumur bor yang ada. Kita juga punya pelayanan truk tangki,” katanya.
Dian juga mengingatkan masyarakat agar ikut berperan dalam menghadapi potensi kekeringan dengan menggunakan air secara hemat. Menurutnya, upaya menjaga ketersediaan air bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat sebagai pelanggan.
“Kita akan mengupayakan agar masyarakat bisa hemat dalam penggunaan air,” ujarnya.
Dian memastikan pihaknya terus memantau kondisi sumber Batu Karut. Meski debit mengalami penurunan, PDAM berupaya menjaga agar pasokan air tetap tersedia dan dapat menjangkau pelanggan.
“Untuk Batukarut memang ada penurunan debit, tapi insya Allah kita jaga supaya air sampai ke mata air,” pungkasnya.












