SUKABUMI — Drumband selama ini kerap dipandang sebatas pertunjukan barisan anak muda yang memainkan alat musik. Namun, jika dikelola secara serius, drumband dinilai memiliki potensi jauh lebih besar, bahkan bisa menjadi bagian dari pengembangan pendidikan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif.
Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi III DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKB, Hasim Adnan, melalui unggahan di media sosial pribadinya.
Menurut Hasim, drumband memiliki kekuatan karena memadukan berbagai unsur seni sekaligus. Musik, gerak, kostum, koreografi, hingga visual menjadi satu kesatuan dalam sebuah pertunjukan.
“Drumband memadukan musik, gerak, kostum, koreografi, dan visual. Karena itu, ia berada di persimpangan antara seni musik dan seni pertunjukan,” tulis Hasim.
Ia menilai, potensi tersebut seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau perlombaan semata. Dengan pembinaan dan pengelolaan yang tepat, drumband dapat dikembangkan menjadi ruang kreatif yang memiliki dampak lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, drumband dapat dikaitkan dengan dunia pendidikan sebagai sarana membangun kedisiplinan, kerja sama dan kepercayaan diri generasi muda. Di sisi lain, pertunjukan drumband juga berpeluang menjadi daya tarik dalam agenda pariwisata maupun festival budaya.
Tak hanya itu, ekosistem drumband juga beririsan dengan ekonomi kreatif. Mulai dari pembuatan kostum, produksi alat musik, koreografi, tata panggung, hingga penyelenggaraan festival dapat membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.
Hasim juga melihat drumband sebagai salah satu cara untuk mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda.
Tradisi tidak harus selalu disampaikan dengan cara-cara lama, tetapi bisa dikemas melalui bahasa pertunjukan yang lebih dekat dengan selera anak muda.
“Drumband jangan hanya dipandang sebagai barisan anak muda yang memainkan alat musik,” tegasnya.
Bagi Hasim, drumband bisa menjadi panggung yang mempertemukan banyak hal. Tradisi bertemu kreativitas, disiplin bertemu ekspresi, sementara kebudayaan lokal menemukan bahasa baru yang lebih mudah diterima generasi muda.
Gagasan tersebut sekaligus membuka perspektif bahwa pembinaan seni di daerah tidak selalu harus dimulai dari panggung besar. Komunitas, sekolah dan kelompok anak muda yang selama ini menghidupkan drumband dapat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem seni dan budaya.
Menurutnya, jika mendapat ruang, pembinaan dan perhatian yang memadai, drumband bukan hanya soal bunyi genderang dan langkah yang seragam.
“Di balik setiap hentakan musik dan gerakan barisan, terdapat potensi kreativitas, pendidikan karakter, promosi budaya, bahkan peluang ekonomi yang bisa dikembangkan lebih jauh,” pungkasnya.












