SUKABUMI – Pemerintah Kota Sukabumi kembali menegaskan komitmennya terhadap pembangunan berbasis partisipasi publik melalui pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan. Kali ini, Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, menjadi ruang lahirnya gagasan dan aspirasi warga untuk arah pembangunan tahun anggaran 2027.
Musrenbang ini menjadi bagian penting dari sistem perencanaan pembangunan nasional, di mana masyarakat berperan sebagai aktor utama dalam menentukan prioritas pembangunan wilayahnya. Forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah konkret untuk menyusun kebutuhan pembangunan fisik dan nonfisik secara berjenjang dari bawah ke atas.
Lurah Benteng, Tri Hastuti, menjelaskan, untuk Musrembang Kelurahan Benteng tahun ini memprioritaskan 5 program fisik dan non-fisik. Untuk fisik disepakati dalam sidang pleno yang pertama adalah perbaikan saluran irigasi di RW 05.
“Jadi kemarin itu irigasinya memang ada kerusakan, sehingga kita jadikan prioritas pertama dan urgent, karena aliran sungai irigasi itu tidak hanya mengaliri kelurahan Benteng saja, tapi juga sampai ke kelurahan Dayeuhluhur,” ungkap Tri.
Tri menyebut bahwa, penerima manfaat dari perbaikan irigasi sangat banyak penggunanya, sehingga pihaknya nenjadikan hal itu prioritas utama.
“Tadi kita sampaikan juga ke Dinas Pertanian dan Dinas PU sukur-sukur gak nunggu sampai tahun 2027, tapi 2026 nanti itu bisa dikerjakan karena sifatnya urgent untuk mengaliri sawah,” terang Tri.

Usulan lainnya menurut Tri adalah perbaikan jembatan di Jalan Saniin yang banyak dilalui oleh warga terutama para pelajar yang akan berangkat ke Madrasah maupun PAUD.
“Disitu memang kondisi jembatannnya mengkhawatirkan, jadi kalau misalnya memang tidak segera diperbaiki, takutnya membahayakan terhadap warga sekitar, terutama anak-anak PAUD dan anak-anak Madrasah,” ungkap Tri.
Perbaikan drainase juga sangat mendesak untuk dilakukan karena jalurnya cukup panjang atau saluran drainase di wilayah Benteng tersambung hingga ke Kelurahan Dayeuhluhur.
“Jadi kalau memang tidak diintervensi dari Kelurahan Benteng, takutnya nantinya berimbasnya ke Kelurahan Dayeuhluhur juga,” kata Tri.
Perbaikan jembatan menurut Tri juga perlu segera dilakukan, terutama jembatan perbatasan antara RW 8 dan RW 1.
“Kalau jembatan itu urgent juga ya, untuk akses penghubung antara dua RW,” jelas Tri.

Pengajuan pembangunan fisik lainnya menurut Tri adalah revitalisasi IPAL komunal yang sebelumnya sudah pernah dibangun beberapa tahun kebelakang.
“Sudah lama sekali juga termasuk juga SAB (Saluran Air Bersih) juga ditangani dan kita perbaiki karena tadi penggunanya itu lumayan banyak sekitar 50-60 KK di RW 9,” kata Tri.
Sementara untuk non-fisik, menurut Tri, bahwa pihaknya telah mengusulkan pelatihan pemulasaraan jenazah yang diajukan warga yang bertahun-tahun belum terealisasi.
Pelatihan lain yang diusulkan adalah ternak lele yang menurutnya sangat banyak peminatnya karena mudah dan murah, ekonomis tetapi menjanjikan.
Selain itu, warga juga mengusulkan adanya pelatihan barbershop atau gunting rambut dengan modal yang minimal, tetapi hasilnya maksimal.
Dan yang terakhir adalah pelatihan kader Posyandu yang saat ini mereka dituntut memiliki kapasitas dan uji kompetensi yang baik.
“Karena sekarang ada integrasi layanan primer posyandu yang 6 ILP itu, jadi kader itu dituntut untuk bisa menguasai semua. Sebelumnya dalam satu kali pelatihan kemarin jika memakai dana Kelurahan mungkin tidak cukup ya, karena harus intensif, ini harus oleh Dinas Kesehatan. Jumlah kader di Kelurahan Benteng itu ada 106, maka tidak bisa kita akomodir semua, barangkali waktunya juga terbatas, mungkin nanti dari Dinas Kesehatan bisa mengantisipasi beserta uji kompetensinya sekalian,” pungkas Tri.












