SUKABUMI – Upaya mengenalkan budaya dan potensi lokal Sukabumi kepada generasi muda terus dilakukan Secret Village, yang berlokasi di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi. Salah satunya melalui program edukasi membatik yang mengajak para pelajar mengenal langsung proses pembuatan batik dari awal hingga menjadi kain siap digunakan.
Kamis (8/10/2026), Secret Village menerima kunjungan sekitar 200 siswa SMP Kristen IPK Tomang. Para pelajar tidak hanya berwisata, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung mengenal budaya batik melalui program edukasi yang menggandeng Batik Lokatmala.
Owner Secret Village, Desi Hermawaty, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Secret Village dalam mengangkat budaya serta berbagai potensi yang dimiliki Sukabumi.
“Di Secret Village kami ingin mengangkat budaya dan potensi Sukabumi, termasuk batik. Jadi bukan hanya hari ini, kami memang memiliki program edukasi batik bersama Lokatmala,” ujar Desi.
Menurutnya, program tersebut terbuka bagi para pengunjung yang ingin mengenal sekaligus mencoba langsung proses membatik. Mulai dari teknik batik cap hingga batik tulis diperkenalkan secara bertahap.
“Semua prosesnya dipelajari di sini, dari awal sampai akhir. Jadi pengunjung bisa belajar bagaimana proses membatik itu dilakukan,” katanya.
Desi menyebut antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut cukup tinggi. Ia bahkan mengaku terkejut melihat ketertarikan para pelajar terhadap budaya batik.
Yang menarik, bukan hanya keterampilan membatik yang menjadi perhatian. Sikap disiplin dan antusiasme para siswa juga dinilai menjadi bagian penting dari proses edukasi.
“Kami sangat surprise karena mereka sangat tertarik. Yang paling hebat adalah edukasinya, disiplin dan attitude mereka. Ini menunjukkan pendidikan mereka sangat bagus,” ungkapnya.
Desi berharap kegiatan serupa dapat semakin banyak dilakukan dan mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah, khususnya agar edukasi budaya dan batik dapat menjadi bagian dari program kunjungan sekolah.
Ia menilai pengenalan budaya sejak dini penting bagi generasi muda, terutama generasi Alpha, agar tidak kehilangan kedekatan dengan sejarah dan identitas budaya daerah.

“Harapannya pelajar di seluruh Indonesia, terutama Sukabumi, bisa tertarik dengan kebudayaan dan batik. Kami juga berharap ada dorongan pemerintah daerah agar kegiatan seperti ini bisa masuk dalam program sekolah,” jelasnya.
Secret Village, lanjut Desi, siap menerima kunjungan sekolah dalam jumlah besar. Selain memberikan pengalaman wisata, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal sejarah, pakaian tradisional, hingga proses pembuatan batik.
“Bukan hanya mengenal batiknya, tetapi mereka bisa tahu prosesnya dari awal. Harapannya nanti muncul penerus-penerus pembatik Sukabumi,” tuturnya.
Meski kunjungan tersebut berlangsung di bulan yang berdekatan dengan momentum Hari Batik Nasional, Desi menegaskan kegiatan itu bukan agenda khusus memperingati Hari Batik Nasional.
Menurutnya, edukasi membatik memang sudah menjadi bagian dari program Secret Village. Bahkan, ketika menerima kunjungan dari luar daerah, pihaknya kerap menyiapkan fasilitas membatik meski sebelumnya tidak diminta oleh rombongan.
“Ini bukan karena Hari Batik Nasional. Memang kami sudah punya program edukasi membatik. Dulu ada kunjungan dari Jakarta, walaupun mereka tidak meminta, kami stand by-kan. Ternyata akhirnya mereka tertarik untuk mencoba,” katanya.
Kolaborasi dengan Sanggar Batik Lokatmala juga dinilai menjadi kekuatan tersendiri. Desi melihat perkembangan batik Lokatmala memiliki daya tarik dan terus berinovasi.
Bagi Desi, Secret Village terbuka terhadap berbagai ide yang dapat mengangkat potensi Sukabumi.
“Kalau ada yang punya ide, saya akan tampung dan saya support,” tegasnya.
Program edukasi membatik tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengalaman kepada pengunjung. Secret Village juga melihatnya sebagai bagian dari upaya pemberdayaan sekaligus penguatan ekonomi lokal.
Desi mengakui meningkatnya jumlah kunjungan tentu berdampak terhadap pendapatan Secret Village. Namun, lebih dari itu, ia ingin tempat tersebut menjadi salah satu ruang edukasi budaya bagi wisatawan dari dalam maupun luar daerah.
“Untuk Secret Village tentu meningkatkan pendapatan. Tapi niat saya juga fokus pada edukasi dan pemberdayaan untuk Sukabumi,” ujarnya.
Ke depan, Secret Village berencana memperluas sasaran kunjungan, tidak hanya sekolah dari satu daerah, tetapi juga wisatawan dan rombongan pendidikan dari berbagai wilayah.
“Secret Village ini salah satu tujuan wisata. Jadi kami akan stand by-kan edukasi membatiknya,” tambahnya.
Bahkan, Desi membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Edukasi di Secret Village tidak akan berhenti pada batik. Berbagai pelaku kerajinan dan penggiat budaya yang memiliki gagasan untuk mengenalkan potensi Sukabumi dipersilakan berkolaborasi.
“Next, bukan hanya batik. Kalau ada pengrajin atau siapa pun yang punya ide dan datang bicara dengan saya, nanti akan saya support,” pungkasnya.












