SUKABUMI — Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) kembali mencatatkan capaian strategis dalam pengembangan sumber daya manusia akademik. Rektor UMMI, Prof. Dr. Reny Sukmawani, S.P., M.P., resmi ditetapkan sebagai Guru Besar dalam bidang kepakaran Pembangunan Pertanian. Informasi mengenai penetapan tersebut disampaikan melalui rilis kelembagaan UMMI pada Senin (7/9/2026).
Pencapaian ini merupakan bagian dari perkembangan karier akademik Prof. Reny dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi, terutama melalui aktivitas pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat pada bidang pembangunan pertanian. Secara institusional, pencapaian tersebut memiliki signifikansi tersendiri bagi perkembangan ekosistem pendidikan tinggi di Sukabumi.
Prof. Reny membangun jenjang karier akademiknya dari perguruan tinggi lokal tempatnya mengabdi, dengan UMMI sebagai homebase akademiknya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas akademik pada perguruan tinggi daerah memiliki peluang untuk menghasilkan sumber daya manusia pada jenjang akademik tertinggi, sepanjang didukung oleh konsistensi penelitian, pengembangan kompetensi, serta ekosistem kelembagaan yang mendukung kegiatan ilmiah.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Reny secara konsisten menekuni isu pembangunan dan pengembangan sektor pertanian, termasuk aspek pengembangan serta hilirisasi komoditas pertanian. Salah satu kajian yang menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya dilakukan ketika menyelesaikan pendidikan doktoral di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung.
Kajian tersebut berfokus pada formulasi model pengembangan komoditas unggulan daerah dengan menggunakan Corporate Proponent Index (CPI). Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya akademik untuk mengidentifikasi dan merumuskan strategi pengembangan komoditas unggulan berdasarkan karakteristik serta potensi wilayah.
Penetapan sebagai Guru Besar bidang Pembangunan Pertanian selanjutnya membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan kontribusi akademik Prof. Reny. Kepakaran tersebut relevan dengan sejumlah agenda pembangunan, antara lain penguatan masyarakat agraris, optimalisasi komoditas unggulan daerah, pengembangan sektor pertanian, serta peningkatan ketahanan pangan di Jawa Barat.

Dari perspektif kelembagaan, pencapaian tersebut tidak hanya merepresentasikan prestasi individual seorang akademisi. Lebih jauh, capaian tersebut dapat dipandang sebagai indikator perkembangan kapasitas akademik UMMI dan perguruan tinggi daerah dalam membangun tradisi penelitian serta menghasilkan akademisi dengan kualifikasi tertinggi.
Keberadaan Guru Besar di lingkungan perguruan tinggi daerah juga memiliki fungsi strategis dalam penguatan budaya akademik. Guru Besar dapat berperan dalam pengembangan agenda riset, pembinaan sumber daya akademik, penguatan jejaring keilmuan, serta penerapan hasil penelitian untuk menjawab persoalan pembangunan di tingkat lokal maupun nasional.
Pihak UMMI berharap pencapaian Prof. Reny Sukmawani dapat menjadi stimulus bagi sivitas akademika, khususnya para dosen dan generasi peneliti di Sukabumi, untuk meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, pengembangan kapasitas akademik tidak berhenti pada pencapaian jenjang jabatan fungsional, tetapi berlanjut pada kontribusi ilmiah yang terukur terhadap pembangunan daerah dan nasional.













