SUKABUMI—Peluang masyarakat Sukabumi untuk bekerja di luar negeri kembali terbuka. Pasim Go Migrant Centre bekerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), dan P2MI membuka sejumlah program pelatihan sekaligus sertifikasi kompetensi yang seluruh biayanya ditanggung pemerintah.
Program tersebut dirancang untuk membekali calon pekerja migran dengan keterampilan yang dibutuhkan sebelum bekerja di luar negeri. Peserta tidak dikenakan biaya atau pungutan selama mengikuti program.
Salah satu program yang ditawarkan adalah pelatihan dan sertifikasi kompetensi untuk membuka peluang kerja di Jepang. Peserta akan mendapatkan sertifikasi kompetensi dari Japan Foundation Test (JFT) basic sebagai salah satu bekal memasuki dunia kerja internasional.
Ketua Yayasan Pasim Sukabumi, Wati Purnaningrum, mengatakan program tersebut terbuka bagi calon peserta berusia 18-28 tahun dengan pendidikan minimal SMK atau sederajat.
“Pelatihan akan dimulai September 2026. Peserta akan mengikuti pendidikan selama sekitar 3,5 bulan di Pasim Go Migrant Centre, Jalan Balandongan Nomor 35, Kelurahan Sudajaya Hilir, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi,” ujar Wati.
Selama mengikuti pendidikan, peserta akan mendapatkan pembelajaran dari tenaga pengajar yang berpengalaman. Peserta juga akan tinggal di asrama yang disediakan dengan fasilitas yang dinilai memadai untuk menunjang proses pendidikan.
Khusus program Jepang, calon peserta setidaknya telah memiliki kemampuan dasar bahasa Jepang. Kemampuan tersebut akan menjadi salah satu bagian dalam proses seleksi yang dilakukan tim Pasim Go Migrant Centre.
“Untuk program Jepang, peserta minimal memiliki basic bahasa Jepang dan harus dinyatakan lulus dalam tes seleksi yang dilakukan tim kami,” kata Wati.
Tak Hanya Jepang, kesempatan pelatihan tidak hanya diarahkan untuk calon pekerja yang ingin bekerja di Jepang. Pasim Go Migrant Centre juga membuka program pelatihan dan sertifikasi untuk sejumlah bidang pekerjaan lain.
Program tersebut antara lain caregiver dengan sertifikasi kompetensi BNSP yang didukung kemampuan bahasa Mandarin. Selain itu, tersedia program caretaker, waiter, dan housekeeping dengan pembekalan kemampuan bahasa Inggris.
Beragam program tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan masyarakat yang ingin membangun karier di luar negeri dengan bekal keterampilan dan sertifikasi yang sesuai.
Menurut Wati, sertifikasi kompetensi menjadi bagian penting karena calon pekerja tidak hanya membutuhkan kemampuan bahasa, tetapi juga keterampilan yang sesuai dengan bidang pekerjaan yang dituju.
Setelah menyelesaikan pelatihan dan dinyatakan kompeten, peserta akan memperoleh sertifikasi resmi BNSP. Bekal tersebut diharapkan meningkatkan daya saing peserta sekaligus membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri.
Program ini sekaligus menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri melalui jalur yang lebih terarah, dengan mendapatkan pelatihan sebelum memasuki pasar kerja internasional.
Dengan seluruh biaya pelatihan ditanggung pemerintah, kesempatan tersebut juga membuka akses lebih luas bagi lulusan SMK atau sederajat yang memiliki minat bekerja di luar negeri tetapi terkendala biaya pendidikan dan sertifikasi.














