SUKABUMI – Yayasan PASIM meluncurkan program SMK PASIM Go Global untuk menyiapkan lulusan SMK bekerja di luar negeri, terutama Jepang. Program ini digagas agar lulusan tidak menambah angka pengangguran setelah menyelesaikan pendidikan.
Ketua Yayasan PASIM, Wati Purnaningrum, mengatakan para siswa dibekali kemampuan bahasa asing sejak kelas 3 sehingga saat lulus mereka sudah siap mengikuti proses penempatan kerja di luar negeri.
“Pembelajaran bahasa sudah kami sisipkan di kelas 3. Jadi setelah lulus, mereka sudah memiliki kemampuan bahasa dan siap bekerja di luar negeri,” kata Wati.
Program tersebut mulai dijalankan pada 2026. Dari sekitar 400 siswa kelas 3, hampir 40 persen telah menyatakan minat mengikuti program tersebut.
Menurut Wati, Jepang menjadi negara tujuan utama karena peluang kerja yang masih sangat besar.
Saat ini PASIM memfokuskan pembelajaran bahasa Jepang, sementara peminat program ke Jerman masih relatif sedikit.
Salah satu keunggulan program ini adalah skema pembiayaan “no success no pay”. Seluruh biaya pelatihan dan persiapan keberangkatan ditanggung lebih dulu oleh PASIM.
Peserta baru mulai membayar setelah benar-benar bekerja dan menerima gaji.
“Tidak ada uang muka. Peserta hanya menyetor deposit Rp2,5 juta sebagai bentuk komitmen. Deposit itu akan dikembalikan saat mereka berangkat,” ujarnya.
Setelah bekerja di Jepang, peserta dapat mencicil biaya pelatihan selama 12 bulan. Dengan rata-rata gaji bersih sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta per bulan, peserta cukup membayar cicilan sekitar Rp4 juta setiap bulan.
Wati menegaskan, tujuan utama program ini bukan hanya meluluskan siswa, tetapi memastikan mereka memiliki masa depan yang jelas.
“Lulusan SMK masih menjadi penyumbang angka pengangguran yang tinggi. Karena itu kami ingin mereka sudah memiliki rencana kerja begitu lulus,” katanya.

Program PASIM Go Migrant Center juga terbuka bagi lulusan sekolah lain. Namun, siswa SMK PASIM tetap menjadi prioritas. Seluruh proses keberangkatan dibantu hingga peserta mulai bekerja di Jepang dan mencicil biaya kepada yayasan.
Wati mengklaim SMK PASIM menjadi sekolah pertama di Sukabumi yang menjalankan program SMK Go Global melalui kerja sama resmi dengan kementerian terkait.
Selain meluncurkan program tersebut, PASIM juga menggelar International Job Fair yang melibatkan perusahaan penempatan pekerja migran (P3MI), lembaga pelatihan kerja (LPK), BPJS Ketenagakerjaan, Imigrasi, hingga perbankan yang menyediakan fasilitas KUR Migran.
Pembiayaan keberangkatan peserta berasal dari berbagai sumber, seperti KUR Migran, BPR, dan dana yayasan. Wati juga membenarkan adanya skema subsidi silang dalam pembiayaan program tersebut.













