SUKABUMI — Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, membuka peluang kerja sama internasional di berbagai sektor usai menjamu 14 duta besar dalam agenda Gala Dinner of Diplomatic Forum yang digelar di Gedung Juang 45, Selasa (21/4/2026).
Dalam keterangannya, Ayep Zaki menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari jejaring Diplomatic Club, yakni komunitas para duta besar dari berbagai negara yang bertugas di Indonesia.
“Ini adalah diplomatic club atau keluarga besar duta besar di seluruh dunia yang ada di Indonesia. Hari ini ada 14 duta besar perwakilan dari 14 negara,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, Kota Sukabumi kini memiliki akses lebih luas ke jaringan diplomatik internasional setelah dirinya resmi menjadi salah satu anggota Diplomatic Club.
“Alhamdulillah, saya sudah diangkat menjadi member Diplomatic Club, sehingga Kota Sukabumi secara otomatis bisa berkomunikasi dengan seluruh anggota yang ada di Jakarta,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, Ayep juga menerima sejumlah tawaran kerja sama dari berbagai negara. Salah satunya datang dari perwakilan Hungaria yang memiliki latar belakang keluarga kepala daerah.
“Ada duta besar dari Hungaria yang orang tuanya juga wali kota. Ia meminta saya untuk berkunjung ke sana untuk menjalin kerja sama,” katanya.
Selain itu, peluang kerja sama juga terbuka dengan Georgia, khususnya di sektor pendidikan. Ayep menyebut, proses kerja sama dengan Georgia relatif lebih cepat dibandingkan mekanisme di Indonesia.
“Mereka ingin segera mempercepat karena tahapan perjanjian di Georgia hanya tiga, sementara Indonesia ada sekitar 11 tahapan. Kita akan upayakan secepatnya agar bisa menjalin kerja sama, termasuk memberangkatkan guru-guru dari TK, SD, hingga SMP ke Georgia,” paparnya.
Tak hanya pendidikan, kerja sama juga akan difokuskan pada sektor kesehatan, ekonomi, hingga pengembangan bisnis turunan. Ayep bahkan mengungkapkan obsesinya untuk mendorong ekspor produk stem cell dari Indonesia ke berbagai negara.
“Tentu ini sangat baik. Selain pendidikan, kita juga akan kerja sama di bidang kesehatan yang secara otomatis akan melahirkan dampak ekonomi. Termasuk obsesi saya untuk bisa ekspor stem cell ke berbagai negara,” ungkapnya.
Ia menegaskan, tujuan utama dari penguatan hubungan diplomatik ini adalah mempercepat pembangunan di Kota Sukabumi melalui kolaborasi global.
“Outcome yang kita harapkan adalah percepatan pembangunan. Kita tidak hanya didukung internal, tapi juga bisa berkomunikasi dengan negara-negara maju—apa yang bisa mereka bantu dan apa yang bisa kita tawarkan,” jelasnya.
Menurut Ayep, diplomasi tidak hanya terbatas pada hubungan antarnegara secara politik, tetapi juga dapat dijalin antar kota dari dua negara dengan cakupan yang lebih luas.
“Hubungan diplomatik bukan hanya politik, tapi juga pendidikan, ekonomi, kesehatan, pertanian, sosial, budaya, dan lainnya. Kita ingin membuka jendela ke mancanegara agar Sukabumi bisa berkembang lebih cepat,” pungkasnya.













