SUKABUMI – Sekretaris Jenderal Persatuan Suporter Peduli Sepak Bola Sukabumi (Persepsi), Atap Fadhilah, menyampaikan kekecewaannya terhadap kondisi Stadion Suryakencana yang dinilai semakin memprihatinkan pasca digunakan sebagai lokasi konser Terambyar Fest pada Minggu (19/4/2026) lalu.
Menurut Atap, stadion tersebut bukan sekadar fasilitas olahraga, melainkan “rumah” sekaligus urat nadi bagi keberlangsungan sepak bola di Sukabumi. Ia menilai, meski saat ini sepak bola di daerah itu tengah mengalami mati suri, keberadaan Stadion Suryakencana tetap memiliki peran vital.
“Bagi kami, Stadion Suryakencana adalah rumah bagi sepak bola Sukabumi. Walaupun kondisinya sedang mati suri, baik dari sisi pembinaan maupun pertandingan, stadion ini tetap jadi urat nadi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak kerusakan lapangan terhadap aktivitas sekolah sepak bola (SSB) yang bermarkas di stadion tersebut. Sejumlah SSB, kata dia, kini kesulitan menggelar latihan akibat kondisi lapangan yang rusak parah.
“Kita bisa lihat, beberapa SSB yang biasa latihan di sini sekarang tidak bisa beraktivitas. Lapangannya rusak, ini sangat miris,” tambahnya.
Atap menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak penyelenggaraan konser musik di stadion. Namun, ia mengkritisi lemahnya pengelolaan serta dampak yang selalu ditinggalkan setiap kali stadion digunakan untuk kegiatan non-olahraga.
“Kita tidak menolak konser musik. Tapi yang kita kritik adalah pengelolaannya. Setiap habis konser, lapangan selalu jadi becek, jauh dari standar lapangan sepak bola. Bahkan lebih mirip kubangan sawah yang baru dibajak,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung janji politik Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, yang sebelumnya menyatakan akan mendorong Stadion Suryakencana menjadi stadion bertaraf nasional.
“Kami menagih janji itu. Dulu disampaikan stadion ini akan ditingkatkan jadi bertaraf nasional, tapi faktanya sekarang justru semakin memprihatinkan,” katanya.
Kekecewaan suporter, lanjut Atap, bukan hal baru. Ia mengingatkan bahwa pihaknya pernah melakukan aksi pada 2017 di stadion yang sama, bahkan sempat menyampaikan aspirasi langsung kepada Agung Laksono dan Dedi Mulyadi yang hadir saat itu.
Selain itu, Persepsi juga mengimbau Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Sukabumi agar lebih selektif dalam memberikan izin penggunaan stadion.
“Jangan hanya melihat pemasukan dari sewa, tapi abaikan dampaknya. Harus ada kajian yang matang sebelum memberikan izin,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi tribun penonton yang dinilai sudah tidak layak digunakan. Dengan nada prihatin, ia menyebut kondisi stadion saat ini sudah rusak dan tidak seharusnya diperparah.
“Bagi kami, Stadion Suryakencana itu ‘geus rejet tong ditambah rejet’ (sudah rusak jangan ditambah rusak),” ungkapnya.
Sebagai perbandingan, Atap mencontohkan pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api yang disewa pihak swasta dalam jangka panjang dan tidak digunakan untuk konser, sehingga kondisinya tetap terjaga.
Ia pun mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, melainkan melakukan introspeksi dan bersama-sama memperbaiki kondisi Stadion Suryakencana.
“Lebih baik kita introspeksi dan fokus memperbaiki. Stadion ini aset penting, jangan sampai terus dibiarkan rusak,” pungkasnya.












