SUKABUMI – Warga RT 01/RW 15, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, mengaku kesal dengan kondisi tembok penahan tanah (TPT) di aliran sungai irigasi yang sudah jebol selama kurang lebih dua tahun dan hingga kini belum mendapatkan perbaikan dari pihak terkait.
Menurut keterangan warga, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aliran air, tetapi juga menyebabkan penumpukan sampah yang semakin parah dari waktu ke waktu. Padahal, aliran sungai tersebut memiliki peran penting sebagai saluran irigasi untuk pengairan area persawahan di wilayah Lingkar Selatan.
Tokoh pemuda setempat, Jamaludin Miftah, mengungkapkan bahwa warga sudah berulang kali menyampaikan laporan kepada pemerintah setempat. Namun hingga saat ini, belum ada tindak lanjut nyata.
“Sudah beberapa kali kami melapor, baik secara lisan ke RW maupun ke pihak kelurahan. Mereka datang ke lokasi, sempat melakukan dokumentasi, tapi setelah itu tidak ada tindak lanjut,” ujarnya, Kamis (26/3/26).
Ia menambahkan, pada Oktober 2025 lalu, warga juga telah melayangkan laporan resmi melalui pihak RW yang ditandatangani oleh lurah setempat. Meski demikian, hingga kini belum ada respons ataupun langkah konkret dari dinas terkait.
Karena tidak kunjung ada penanganan, warga terpaksa melakukan upaya swadaya untuk menjaga aliran sungai tetap berjalan. Kegiatan pembersihan sampah dilakukan secara rutin, bahkan dalam beberapa waktu terakhir intensitasnya meningkat.
“Awalnya kami bersihkan hampir sebulan sekali, sekarang bisa sampai seminggu sekali karena sampah terus menumpuk dan menyumbat aliran,” jelas Jamaludin.
Ia menjelaskan, penyumbatan tersebut berdampak serius terhadap kondisi sungai. Pendangkalan terjadi akibat sampah yang menumpuk di aliran, sehingga kedalaman sungai yang sebelumnya mencapai sekitar tiga meter kini berkurang drastis.
“Seharusnya aliran ini cukup dalam, tapi karena tersumbat, akhirnya terjadi pendangkalan. Sampah menumpuk di sekitar aliran dan menghambat arus air,” katanya.
Dampak lain yang dirasakan warga adalah meningkatnya potensi banjir, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. Bahkan, beberapa waktu lalu, air sungai sempat meluap hingga masuk ke permukiman warga.
“Waktu hujan deras kemarin, air meluap karena tersumbat sampah. Akhirnya banjir sampai ke rumah warga,” tambahnya.
Warga berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk memperbaiki TPT yang jebol serta melakukan normalisasi aliran sungai. Mereka khawatir, jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya akan semakin meluas dan merugikan masyarakat sekitar.
“Harapan kami sederhana, ada tindakan nyata. Jangan hanya datang dan dokumentasi saja, tapi benar-benar diperbaiki supaya aliran kembali normal dan tidak membahayakan warga,” pungkas Jamaludin.

Sementara itu, Lurah Dayeuhluhur, Supardi, membenarkan adanya laporan masyarakat terkait jebolnya TPT tersebut. Ia menyebut pihak kelurahan telah melakukan pengecekan lapangan dan menyampaikan laporan serta permohonan perbaikan kepada dinas terkait.
“Setelah menerima laporan, kami langsung melakukan kroscek ke lokasi dan mengajukan permohonan perbaikan ke dinas terkait. Namun untuk pelaksanaannya memang bukan kewenangan kami,” ujar Supardi.
Ia menjelaskan, perbaikan infrastruktur seperti TPT menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Sukabumi. Pihak kelurahan hanya bertugas menyampaikan laporan dan aspirasi masyarakat.
“Secara tupoksi kami sudah menjalankan tugas. Untuk realisasi perbaikan memang berada di ranah DPUTR,” tegasnya.
Dengan masalah ini, Pemerintah Kota Sukabumi harus segera mengambil langkah konkret untuk menangani kerusakan tersebut. Pasalnya, selain berdampak pada sektor pertanian, kondisi TPT yang jebol juga berpotensi membahayakan keselamatan warga jika terus dibiarkan tanpa penanganan.













