SUKABUMI – Film fiksi ilmiah keluarga berjudul Pelangi di Mars resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Rabu (18/3/2026), bertepatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Di Kota Sukabumi, penayangan perdana dipusatkan di Moviplex Studio Sukabumi yang berlokasi di Jalan Bhayangkara.
Sejak hari pertama, antusiasme warga terlihat tinggi. Sejumlah penonton memadati bioskop untuk menyaksikan film yang disebut-sebut sebagai salah satu tonggak baru industri perfilman nasional, khususnya dalam penggunaan teknologi visual modern.
Film garapan sutradara Upie Guava ini diproduksi oleh Mahakarya Pictures dan menjadi debut penyutradaraan film panjangnya, setelah sebelumnya dikenal melalui karya dokumenter dan video musik.
“Pelangi di Mars” mengusung teknologi Extended Reality (XR) dengan metode produksi hybrid, menggabungkan pengambilan gambar nyata dan lingkungan virtual tiga dimensi.
Proses kreatif film ini bahkan memakan waktu hampir enam tahun, melibatkan ratusan kreator dari seluruh Indonesia, mulai dari animator hingga VFX artist.
Film ini dinilai sebagai langkah maju dalam industri film nasional, dengan standar baru dalam penggunaan animasi, CGI, dan VFX. Selain itu, produksi ini juga memberikan ruang apresiasi bagi para voice actor dan body actor yang selama ini jarang mendapat sorotan.
Secara cerita, film ini berlatar tahun 2100 dan mengisahkan seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pelangi, manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Ditinggal sang ibu, ia harus bertahan hidup bersama sekelompok robot, sekaligus memimpin misi mencari Zeolith Omega, mineral langka yang diyakini mampu menjadi harapan terakhir bagi umat manusia di Bumi.

Film ini dibintangi oleh Keinaya Messi Gusti, serta menghadirkan sejumlah aktor ternama seperti Lutesha, Rio Dewanto, dan Livy Renata.
Salah seorang penonton, Dwi Utami, warga Bandung yang tengah berlibur Lebaran di Sukabumi, mengaku terkesan dengan film tersebut.
“Filmnya bagus banget, sangat mengedukasi. Banyak istilah ilmiah yang bisa jadi pembelajaran baru untuk anak-anak. Selain itu, film ini juga membangun rasa cinta terhadap Bumi,” ujarnya.
Ia juga menilai alur cerita film ini mudah dipahami dan tidak membingungkan, sehingga cocok untuk anak-anak. “Dari awal sampai akhir ceritanya nyambung, tidak rumit dan tetap seru,” tambahnya.
Menurutnya, kualitas visual film ini juga patut diapresiasi. “Saya nonton karena penasaran, ini karya anak bangsa dengan teknologi VFX. Ternyata hasilnya bagus banget, bahkan bisa menyaingi film luar negeri,” katanya.
Meski demikian, ia mengaku sedikit terbawa emosi dengan alur cerita, terutama terkait sosok ibu Pelangi. “Mungkin agak sedih saja, tapi secara keseluruhan tetap bagus,” ungkapnya.

Dwi yang menonton bersama keluarga menilai film ini aman untuk anak-anak dari sisi visual. “Pencahayaan dan tampilannya nyaman, tidak terlalu mengejutkan, jadi aman untuk ditonton keluarga,” tuturnya.
Dengan sambutan hangat di hari pertama penayangan, “Pelangi di Mars” diharapkan mampu menjadi inspirasi sekaligus kebanggaan baru bagi industri perfilman Indonesia.













