SUKABUMI – Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) DPC Kota Sukabumi, Rizal Bahtiar menyampaikan bahwa rencana pengoperasian jalur kereta wisata Jakalalana saat ini masih dalam tahap pembahasan bersama pihak terkait.
Hal tersebut disampaikan Rizal saat menghadiri kegiatan Travel Agen Gathering Sub Agen se-Jawa Barat Barokah Group Indonesia yang digelar pada Jumat (6/3/2026) di Santa Sea Water Park.
Menurut Rizal, selama ini pihak ASITA terus dilibatkan dalam berbagai program pengembangan wisata, termasuk rencana pengoperasian kereta wisata bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Selama ini ASITA selalu dilibatkan oleh PT KAI. Kemarin juga sempat ada kegiatan railway travel agent gathering ke Sukabumi. Sampai saat ini jalur kereta wisata Jakalalana masih dalam proses penggodokan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini pihak terkait masih mengatur berbagai aspek teknis, mulai dari jalur yang akan digunakan hingga konsep paket wisata yang akan ditawarkan kepada wisatawan.
“Jadi mereka masih mengatur jalur, kemudian apa saja yang akan didapat dalam paket wisata tersebut, berapa harga tiketnya, semua itu sekarang masih digodok,” jelasnya.
Rizal berharap program kereta wisata tersebut dapat segera terealisasi karena diyakini akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan pariwisata di Kota Sukabumi.
“Untuk waktunya kita berharap mudah-mudahan sesegera mungkin. Dengan adanya kereta wisata Jakalalana ini, ditambah akses tol baru sampai ke Cibolang, mudah-mudahan bisa memberi dampak positif bagi Kota Sukabumi, terutama sektor pariwisata,” katanya.
Ia menambahkan, ASITA memiliki tanggung jawab untuk terus mempromosikan berbagai potensi pariwisata yang ada di Kota Sukabumi, mulai dari hotel hingga destinasi wisata.
“Yang pasti ASITA selalu mempromosikan destinasi yang ada di kota, mulai dari hotel sampai potensi wisata lainnya. Ini merupakan tanggung jawab kami,” ungkapnya.
Bahkan, lanjut Rizal, ASITA bersama seluruh DPC di Jawa Barat dan para kepala dinas pariwisata se-provinsi Jawa Barat baru saja menggelar rapat untuk merumuskan program sales mission guna mempromosikan pariwisata, baik di dalam maupun luar negeri.
Ia menegaskan, industri pariwisata tidak bisa sepenuhnya bergantung pada program atau anggaran pemerintah daerah.
“Ada atau tidak adanya program dari pemerintah daerah, kami tetap berjalan. Wisatawan tidak harus menunggu anggaran dari pemerintah, karena kami di industri harus tetap bergerak,” tegasnya.
Namun demikian, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan terhadap berbagai program promosi wisata yang dilakukan oleh pelaku industri pariwisata.
“Apalagi kalau nanti wisatawan banyak datang, tapi pemerintah tidak support program kami, tentu sangat disayangkan,” pungkasnya.













