SUKABUMI – Buntut temuan roti yang berubah rasa menjadi asam dalam kemasan MBG di SDN Gunungpuyuh Cipta Bina Mandiri masih menimbulkan persoalan baru.
Setelah sebelumnya pihak dapur SPPG Karang Tengah mengeluarkan imbauan kepada orang tua siswa melalui grup WhatsApp agar tidak mengonsumsi roti tersebut serta segera membuangnya dan akan menggantinya pada hari berikutnya, insiden lain justru terjadi pada Selasa malam (3/3/26).
Salah seorang orang tua siswa yang tinggal di Jalan Bhayangkara, Kota Sukabumi, mengaku membuang roti MBG yang sudah asam itu ke kolam ikan miliknya. Namun, usai makan sahur, ia mendapati ikan-ikan peliharaannya mati mengambang dan diduga keracunan setelah memakan roti tersebut.
Melalui pesan WhatsApp yang beredar, orang tua tersebut memperlihatkan foto ikan-ikan nila yang baru ditebar sekitar 10 kilogram dalam kondisi mati mengambang di permukaan kolam.
“Ikan mati, diberi makan roti MBG. Kebayang jika dimakan oleh anak kita,” tulisnya dalam pesan yang beredar di grup orang tua siswa.
Peristiwa ini pun memicu kekhawatiran di kalangan wali murid. Mereka mempertanyakan kualitas dan keamanan makanan dalam program MBG yang dibagikan kepada siswa, terlebih kejadian roti asam tersebut sebelumnya sudah sempat dikeluhkan karena rasa dan aromanya yang tidak layak konsumsi.
Pihak sekolah melalui PIC MBG SDN Gunungpuyuh Cipta Bina Mandiri membenarkan adanya temuan roti yang berubah rasa menjadi asam.
Menindaklanjuti hal tersebut, pada Rabu (4/3/26) sekolah langsung menggelar pertemuan bersama pihak dapur SPPG Karang Tengah, koordinator kecamatan, ahli gizi, Babinsa, serta komite sekolah.
Dalam pertemuan tersebut, pihak dapur SPPG Karang Tengah disebut berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk memperbaiki kualitas pengemasan (packaging) dan menu MBG agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait penyebab pasti kematian ikan tersebut, termasuk apakah benar disebabkan oleh roti yang telah asam. Namun, kejadian ini semakin menambah kekhawatiran orang tua siswa terhadap kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka di sekolah.













