SUKABUMI – Program Makan Bergizi (MBG) di salah satu sekolah di Kota Sukabumi menuai sorotan tajam pada hari pertama masuk sekolah di bulan Ramadan. Pasalnya, menu yang dibagikan kepada para siswa dinilai jauh dari ekspektasi dan standar gizi yang dijanjikan. Keriuhan ini bermula dari unggahan akun Facebook bernama View Mpiw sekitar lima jam lalu. Dalam foto yang diunggah, terlihat jatah menu MBG untuk anak sekolah hanya berupa bubur sumsum, potongan singkong, dan empat butir kurma.
Menu tersebut diklaim sebagai asupan gizi untuk anak-anak di salah satu sekolah di Kota Sukabumi selama masa Ramadan. Unggahan itu dengan cepat menyebar luas dan menu serupa juga diunggah oleh akun Shafa SR.
Dengan nada getir, Shafa mengungkapkan kekecewaannya karena ketiga anaknya mendapatkan menu yang sama.
“Semiskin-miskinnya kami, ga jugalah harus menunggu seperti ini. Tolonglah dapur SPPG, tidak harus kayak gini. Apakah ini pantas dan layak dijadikan makanan bergizi? Ketiga anakku dapatnya begini semua. Bukan tidak bersyukur, tapi ini seperti penghinaan bagi kita,” tulisnya dalam keterangan foto.
Kekecewaan para orang tua murid tidak hanya berfokus pada jenis makanan yang diberikan, tetapi juga pada kandungan gizinya yang dianggap jauh dari standar gizi nasional. Padahal, esensi dari program MBG adalah untuk meningkatkan kualitas kesehatan dan pertumbuhan anak-anak.
Di beberapa titik di Kota Sukabumi, sejumlah SPPG dikabarkan membagikan jatah menu sekaligus untuk durasi dua hingga tiga hari. Namun praktik tersebut justru memperkeruh suasana, karena menu yang diberikan dinilai tidak memenuhi spesifikasi yang sebelumnya dijanjikan pemerintah.
Kolom komentar di berbagai grup Facebook warga Sukabumi pun dipenuhi beragam reaksi sinis dan tuntutan transparansi.
Akun Surahman Nanang menuliskan sindiran tajam dengan memplesetkan singkatan MBG. “MBG (maling berkedok gizi). Kalau dikritik malah tidak terima, tapi kenyataannya seperti ini. Katanya kalau menolak atau kritik MBG melanggar hak asasi. Tidak tahu rakyat yang cerdas atau pemerintah yang bodoh. Yang jelas MBG ini menghabiskan uang rakyat sambil rakyat diperas,” tulisnya.
Senada, Pandi Grin mendesak para orang tua untuk langsung mendatangi pelaksana program. “Bawa ke pelaksananya, kasih tahu kok bahannya tidak sesuai spek. SPPG mana? Bawa ke situ biar agak cerdas sedikitlah,” tegasnya.
Tuntutan akan peran ahli gizi juga disampaikan akun Liandy Andi yang menantang pihak SPPG untuk memaparkan data ilmiah terkait menu tersebut.
“Ahli gizinya di setiap SPPG perlu menjelaskan persentase kecukupan gizinya setiap kali menu dibagikan. Siap tidak nih? Agar transparan,” cetusnya.
Sementara itu, Asep Dadang memberikan komentar sarkastis terhadap efisiensi anggaran yang diduga dilakukan pihak penyedia. “Ahli gizinya hebat… memperkecil pengeluaran, menghasilkan pendapatan yang melimpah,” tulisnya.
Gelombang kritik ini menjadi peringatan bagi pihak penyelenggara MBG di Kota Sukabumi agar segera melakukan evaluasi menyeluruh, terutama terkait standar menu dan transparansi anggaran.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak SPPG maupun dari Satuan Tugas (Satgas) MBG Kota Sukabumi mengenai polemik menu MBG tersebut. Masyarakat berharap program yang digadang-gadang sebagai upaya peningkatan kualitas gizi anak bangsa itu benar-benar dijalankan sesuai standar, bukan sekadar formalitas administratif semata.














