SUKABUMI – Tradisi Imlek identik dengan sajian Nian Gao atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai kue keranjang. Biasanya, kue berbahan dasar tepung ketan dan gula ini disajikan saat perayaan Tahun Baru Imlek sebagai simbol harapan dan kemakmuran.
Namun karena momen Imlek dan Ramadan tahun ini sangat berdekatan, Dila Novianti, warga Tipar, Kecamatan Citamiang, mencoba menghadirkan inovasi berbeda. Ia mengolah kue keranjang menjadi sajian takjil yang cocok disantap saat berbuka puasa.
Beragam kreasi pun dihadirkan. Mulai dari kue keranjang yang digoreng dengan balutan tepung renyah, dikukus dengan topping kelapa parut, hingga dikombinasikan dengan bahan lokal seperti pisang dan santan.
Menurut Dila Novianti, inovasi ini terinspirasi dari kedekatan waktu antara dua perayaan besar tersebut. Ia ingin menghadirkan menu yang tidak hanya unik, tetapi juga bisa diterima berbagai kalangan.
“Karena jarak perayaan Imlek dan puasa sangat dekat, saya mencoba membuat cara baru, yaitu menjadikan kue keranjang atau olahan nian gao menjadi menu takjil untuk berbuka puasa. Bisa digoreng dengan balutan tepung renyah, dikukus dengan topping kelapa parut, atau dikombinasikan dengan pisang dan santan.” ujar Dila, Selasa (17/02/26).

Teksturnya yang lembut dan rasa manisnya yang khas membuat sajian ini cocok untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Selain mengenyangkan, menu ini juga menjadi simbol akulturasi budaya yang harmonis.
Inovasi takjil berbahan kue keranjang ini pun mendapat respons positif dari masyarakat, terutama mereka yang ingin mencoba sensasi berbeda saat berbuka puasa.
Kreativitas kuliner seperti ini menjadi bukti bahwa keberagaman budaya dapat berpadu harmonis, bahkan dalam satu sajian berbuka puasa.














