SUKABUMI – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan sejumlah kritik dan refleksi tajam mengenai sistem pendidikan nasional saat menghadiri Grand Launching Pradita Adhigana International Boarding School di kawasan Grand Cikareo, Kota Sukabumi, Jumat (13/2/26).
Dalam sambutannya, KDM menyoroti bahwa orientasi pendidikan saat ini masih terlalu terpaku pada kurikulum dan administrasi, sementara pembentukan karakter kerap terabaikan.
“Guru itu terpaku hanya menyampaikan kurikulum, anak terpaku pada proses administrasi. Padahal yang dibentuk bukan hanya otak anak, tapi perilaku dan karakter anak. Karena suatu saat anak akan hidup mandiri,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi anak-anak di Indonesia dengan di Jepang. Menurutnya, di Indonesia masih banyak anak yang diantar kakek, nenek, atau orang tua ke sekolah, sementara di Jepang anak-anak sudah terbiasa mandiri sejak kecil, bahkan berangkat sekolah menggunakan sepeda sendiri.
KDM juga menyinggung paradoks pendidikan modern. Ia menilai, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, justru persoalan lingkungannya semakin kompleks, termasuk persoalan sampah yang tak kunjung selesai.
“Orang tua di Indonesia punya problem. Nitip anak sekolah, tapi masih diantar ke sekolah. Padahal kemandirian itu harus dilatih sejak dini,” tegasnya.
Selain itu, ia mengkritisi kebijakan pendidikan nasional yang dinilainya terlalu sering berubah. Pergantian menteri kerap diikuti perubahan kurikulum yang membingungkan dunia pendidikan.
“Pemerintah selalu gonta-ganti menteri, ganti kurikulum. Itu membingungkan,” katanya.
Menurutnya, sekolah swasta justru memiliki ruang gerak lebih merdeka karena kepala sekolah tidak dibayangi ketakutan dipindahkan atau anggarannya dipotong.
Dalam kesempatan tersebut, KDM juga menyoroti gaya hidup anak-anak masa kini yang serba digital dan instan. Ia menyebut problem generasi sekarang adalah proses hidup yang tidak lagi manual.
“Bangun tidur sudah ada alarm, mandi sudah ada air panas, seragam sudah disiapkan, bahkan berangkat diantar orang tuanya. Di sekolah tidak lagi mengenal papan tulis dan kapur, tidak ada budaya menulis,” ungkapnya.
Ia membandingkan dengan generasi tahun 1970-an yang menurutnya lebih tahan tekanan dan tidak mudah putus asa. Sementara generasi sekarang dinilai cenderung kurang sabar dan rentan menghadapi tekanan hidup.
“Anak sekarang tidak sabaran dan mudah putus asa, bahkan sampai ada yang bunuh diri. Ini yang harus kita pikirkan bersama,” ucapnya prihatin.
Di akhir sambutannya, KDM menegaskan bahwa problem utama anak-anak saat ini adalah potensi diri yang tidak tergali dan terlepas dari pembentukan karakter yang kuat.
Ia berharap kehadiran Pradita Adhigana International Boarding School dapat menjadi model pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai kemandirian, ketahanan mental, serta pembentukan karakter yang kokoh bagi generasi masa depan.














