ACEH TAMIANG – Lebih dari sebulan pascabanjir bandang yang melanda Sumatera, khususnya Aceh, upaya penanggulangan bencana masih terus dilakukan. Distribusi bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak tetap menjadi prioritas, meski dihadapkan pada berbagai kendala di lapangan.
Dengan kondisi tersebut, mendorong Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indoesia (Perwatusi) Anita A. Hutagalung, didampingi Bendahara Pusat Perwatusi, Dewan Pengawas, serta Ketua Perwatusi Sukabumi, Sofyan Tarmidzi, bergabung dengan puluhan relawan lain dari Medan dan Aceh membantu penanganan bencana di wilayah Aceh. Keberangkatan relawan Perwatusi ini dilakukan di Jakarta Sabtu (3/1/26).
Ketua umum DPP Perwatusi, Anita A Hutagalung, saat memimpin pelepasan tersebut mengimbau kepada para relawan untuk menjaga kesehatan demi kelancaran misi kemanusiaan di Aceh Tamiang, karena menjadi relawan membutuhkan kondisi fisik yang prima. “Tetap gunakan masker dan jaga kondisi fisik agar upaya kita dalam membantu masyarakat bisa dilakukan semaksimal mungkin,” ujar Anita.
Masih menurut Anita, kondisi masyarakat Aceh masih jauh dari pulih, DPP Perwatusi mengirimkan perwakilannya untuk membantu proses pemulihan di wilayah terdampak.
“Di beberapa lokasi, listrik masih padam, lumpur masih menumpuk di rumah-rumah, dan kayu gelondongan masih berserakan. Warga kini sedang berjuang menata hidup kembali,” kata Anita.
Relawan yang diberangkatkan ini langsung bergabung dengan relawan dari komunitas lainnya yang berasal dari berbagai latar belakang keahlian, mulai dari montir, paramedis, tenaga struktur bangunan, relawan psikososial, hingga tim dapur umum.
“Mereka dijadwalkan bertugas hingga 3 Februari 2026, bergabung bersama relawan lokal untuk membersihkan pemukiman, memulihkan fasilitas warga, serta mendampingi masyarakat secara kemanusiaan,” terang Anita.

Salah seorang pengurus Perwatusi yang masih bertahan di Aceh Tamiang, Sofyan Tarmidzi menjelaskan, akses menuju permukiman warga yang rusak parah menjadi tantangan utama dalam penyaluran bantuan. Banyak wilayah masih dipenuhi genangan air, lumpur, serta tumpukan kayu gelondongan sisa banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu.
“Karena keterbatasan akses, kami dan relawan lainnya terpaksa meniti puing-puing kayu yang melintang untuk menyerahkan paket sembako langsung kepada warga. Ini bisa menjadi gambaran nyata bagaimana perjuangan kami demi memastikan bantuan tepat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan,” terang Sofyan.
Menurutnya, memasuki fase pemulihan, pekerjaan warga Aceh masih panjang, mulai dari membersihkan lumpur, memperbaiki rumah, memastikan kebutuhan dasar, hingga memulihkan aktivitas sehari-hari. Karena itu, kehadiran relawan dianggap penting untuk mengisi ruang-ruang kebutuhan yang belum tertangani. “Kita ingin menyampaikan pesan sederhana bahwa Indonesia tidak meninggalkan Aceh,” tutur Sofyan.
Bantuan berupa pakaian baru, sembako dan bahan-bahan lainnya diserahkan langsung kepada warga Aceh yang belum sama sekali tersentuh bantuan. Termasuk peralatan sepakbola untuk anak-anak korban bencana juga diberikan.
Sofyan berharap bantuan ini menjadi pengingat bagi masyarakat luas bahwa kepedulian tidak boleh berhenti hanya karena sorotan media berkurang. “Bencana tidak pernah memilih waktu. Selama masih ada warga yang berjuang untuk bangkit, selama itu pula kita harus membersamai mereka,” katanya.
Selama di Aceh Tamiang, tim ini bersinergi dengan relawan setempat, aparat desa, dan jaringan kebencanaan lokal. Pendekatan ini diharapkan membuat bantuan lebih tepat sasaran, tidak menggantikan peran warga, melainkan menguatkan mereka.
“Kami memastikan dukungan ke Aceh akan berlanjut, menyambung rangkaian bantuan sebelumnya ke wilayah terdampak lain di Sumatera,” pungkasnya.














