SUKABUMI – Pemerintah Daerah Kota Sukabumi tegas berkomitmen untuk memperkuat kemandirian keuangan daerah melalui peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), khususnya Bank Perekonomian Rakyat (BPR).
Ditemui usai melantik empat pejabat hasil seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) dan satu Direktur BPR Kota Sukabum, Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki, menjelaskan masing-masing sektor memiliki target kinerja jelas. Saat ini aset BPR daerah mencapai Rp50 miliar, dan ia menargetkan nilainya naik sepuluh kali lipat menjadi Rp500 miliar.
“Dengan aset Rp50 miliar, keuntungannya sekitar Rp5 miliar per tahun. Kalau naik ke Rp500 miliar, profit 7,5 persen saja bisa menghasilkan Rp37–38 miliar per tahun,” kata Ayep.

Target ambisius itu disambut optimistis oleh Direktur Utama yang baru BPR Kota Sukabumi, Sutrisno Priyosuryono, meski diakuinya pencapaian tersebut bukan pekerjaan mudah.
“Target ini sangat menantang, baik bagi saya pribadi maupun bagi BPR. Tapi bukan hal yang mustahil,” ujar Sutrisno dalam wawancara perdananya, kepada sejumlah awak media, Rabu (8/9/25).
Menurutnya, kondisi fundamental BPR saat ini cukup kuat. Rasio permodalan (KPMM) mencapai 60 persen jauh di atas ketentuan minimal 12 persen.
Return on Asset (ROA) juga tercatat di angka 5 persen, melampaui standar sehat 2 persen. Sementara rasio BOPO (biaya operasional terhadap pendapatan operasional) berada di 69 persen, jauh di bawah ambang batas untuk peringkat kategori Sehat yakni 85 persen. Bahkan bulan Agustus 2025 kami menerima penghargaan preditkat “Sangat Bagus” untuk kinerja tahun 2024 dari Majalah Infobank.
“Rasio-rasio inti kita sangat bagus. Ini modal besar untuk tumbuh,” tegasnya.
Meski demikian, Sutrisno mengakui tantangan utama masih terletak pada penghimpunan dana masyarakat (DPK) yang relatif kecil.
Hingga akhir 2024, DPK BPR Sukabumi baru mencapai Rp22,8 miliar, sementara dengan modal serupa bank lain bisa mengelola dana hingga lebih dari Rp100 miliar.
“Masalahnya, nasabah kita masih sedikit. Tingkat kepercayaan masyarakat juga perlu ditingkatkan. Itu fokus kami ke depan,” jelasnya.
Untuk itu, BPR Sukabumi akan memperluas basis nasabah, tidak hanya dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) seperti selama ini, tapi juga masyarakat umum dan pelaku usaha produktif. Sejumlah inovasi produk akan diluncurkan, seperti tabungan rencana umroh, tabungan pendidikan, dan tabungan hari raya.
“Kita harus aktif menjemput bola. Saya ingin BPR Sukabumi menjadi bank pilihan masyarakat, tidak terbatas pada ASN saja,” katanya.
Selain memperbesar DPK, BPR juga akan memperkuat pembiayaan produktif seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan pembiayaan proyek kontraktor rekanan Pemda dengan sistem tertutup (close system).
Strategi ini diharapkan mampu menekan biaya dana (cost of fund) dan meningkatkan daya saing. “Kalau masyarakat sudah banyak menabung di kita, cost of fund akan turun, dan kita bisa bersaing dengan BPR lain atau bahkan bank umum,” ujarnya penuh semangat.
Sutrisno menambahkan, ke depan BPR Sukabumi tidak ingin terus bergantung pada penyertaan modal dari pemerintah. Pertumbuhan akan ditempuh melalui peningkatan laba dan ekspansi pasar.
“Saya ingin BPR ini besar dengan kakinya sendiri. Kalau target aset Rp500 miliar tercapai, laba bisa mencapai Rp25 miliar dan modal tumbuh dua kali lipat. Itu sangat realistis,” ujarnya optimistis.
Dengan rasio keuangan yang sehat dan arah strategi yang jelas, Sutrisno yakin BPR Kota Sukabumi mampu mewujudkan target besar tersebut. Namun, ia menegaskan, keberhasilan hanya bisa dicapai bila seluruh pihak terutama masyarakat Kota Sukabumi turut berpartisipasi dimulai dengan menjadi nasabah BPR Kota Sukabumi.
“Ayo, jadi nasabah. Kalau masyarakat percaya dan mendukung, pertumbuhan itu bisa kita capai bersama,” pungkasnya.












