SUKABUMI – Anggota Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Sukabumi Raya, Muhamad Akasah, jurnalis senior ANTV dan TVOne berhasil meraih gelar doktor di UNINUS Bandung. Akasah berhasil meraih gelar doktor program studi ilmu pendidikan.
Keuletan dan kedisiplinan selama menempuh studi membuat Akasah bisa menyelesaikan studi S3 dalam waktu 3 tahun.
Selain sebagai jurnalis televisi, Akasah saat ini tercatat sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Dan Politik (STISIP) Widyapuri Mandiri Sukabumi. Ia mempertahankan disertasinya pada sidang promosi doktoral yang berjudul “Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Karakter dalam Mewujudkan Mutu Lulusan di Sekolah Kejuruan” pada sidang terbuka kamis tanggal 10 Oktober 2024 di Aula Pascasarjana UNINUS Bandung.
Muhamad Akasah mengatakan bahwa dalam usianya yang tidak lagi muda dirinya masih perduli pendidikan, karena dalam menjalankan seorang wartawan sering kali melihat kenakalan remaja, seperti kerap terjadi tawuran, penggunaan narkoba bahkan tidak menghhormati kepada orangtua maupun guru dan lainnya.
“Kondisi ini dikawatirkan di masa mendatang akan menyebabkan terjadinya korupsi, manipulasi dan penyalahgunaan kekuasaan serta wewenang, yang diakibatkan karena kurangnya pendidikan karakter di sekolah sementara dunia pendidikan seharusnya menjadi motor penggerak untuk mengedukasi bangsa kita sehingga manusia lebih berkarakter, beradab, bermartabat serta mulia,” jelsnya.
Di Sukabumi, nama Akasah memang sudah tak asing lagi terutama dikalangan jurnalis. Ia sudah meniti karier didunia jurnalistik selama 18 tahun. Diakhir kariernya ia mencoba untuk mengabdi didunia pendidikan dengan merangkap sebagai dosen dan mengajar di beberapa kampus di Sukabumi.

“Saya dari tahun 2005 di ANTV dulu kontributor untuk wilayah Sukabumi. Kemudian pas tahun 2009 ada TVOne jadi saya di TVOne sampai sekarang,” ujar Akasah.
Berbekal hasil sangat memuaskan atau cum laude dengan IPK 3.75, Akasah mantap menatap karirnya sebagai tenaga pengajar.
“Saya ini sudah 18 tahun di media jadi karena usia kan kalau media harus gesit. Kita kan tahu diri makanya pas terakhir saya jadi dosen mungkin akan lebih fokus jadi dosen,” ujarnya.
“Tapi kira-kira sepuluh tahun yang lalu saya mulai ngajar di STISIP, akhirnya sekarang ngajar juga di GMN Al Masthuriah juga ngajar,” tambah Akasah.
Ia pun berpesan bagi para jurnalis lainnya agar tetap mengejar pendidikan. Karena menurutnya dengan berbekal ilmu yang banyak para jurnalis akan lebih melek terhadap isu-isu di lapangan.
“Kalau pendidikan itu tidak ada masalah usia masih banyak orang usia muda perdalam lah pendidikan karena kan di jurnalis perlu pendidikan jurnalis,” ucapnya.
“Jadi bagi rekan-rekan kan tidak mungkin selamanya jadi seorang jurnalis. Kalau dengan pendidikan kan bisa kemana aja bisa ke ilmu-ilmu lain seorang jurnalis juga harus mengejar ilmu-ilmunya,” pungkas Akasah.
Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Sukabumi Raya, Apit Haeruman merasa bangga dan mengapresiasi pencapaian Budi Nugraha pada sidang promosi S-3 tersebut.
“Kang Aka (panggilan akrab Akasah) dengan sungguh-sungguh dan serius bisa menyelesaikan program studi doktor ini, mengingat pekerjaan dan kesibukannya beraktivitas sebagai wartawan,” kata Apit.
Apit berharap apa yang ditemukan Akasah dalam penelitiannya bisa bermanfaat bagi dunia pendidikan dan profesi jurnalis saat ini yang semakin banyak tantangannya.
“Semoga apa yang telah dilakukan doktor Akasah dapat memotivasi teman-teman wartawan lainnya,” pungkas Apit.














