SUKABUMI – Deretan pohon Tabebuya yang kini tumbuh menghiasi sejumlah ruas jalan di Kota Sukabumi ternyata menyimpan cerita dan filosofi tersendiri.
Mantan Wali Kota Sukabumi periode 2018-2023, Achmad Fahmi, mengungkap alasan di balik pemilihan Tabebuya sebagai pohon penghias kota.
Melalui akun Instagram pribadinya, Fahmi mengenang kembali proses penataan wajah Kota Sukabumi yang dimulai pada akhir 2022, setelah pandemi COVID-19 mulai berakhir.
Menurut Fahmi, masa tersebut menjadi momentum bagi Kota Sukabumi untuk kembali bangkit setelah hampir seluruh sendi kehidupan terdampak pandemi.
“Semangat dan harapan baru tumbuh untuk segera bangkit dan kembali pulih,” tulis Fahmi dalam unggahannya.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, pemerintah saat itu mulai mempercepat pembangunan dan penataan infrastruktur di pusat kota.
Penataan diawali dari enam ruas jalan yang selama puluhan tahun dinilai semrawut. Langkah tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembangunan pedestrian yang terintegrasi di sejumlah titik, hingga penataan kawasan Alun-Alun Kota Sukabumi, Lapang Merdeka, Gedung Juang, dan kawasan Balai Kota.
Namun, pembangunan fisik tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki fungsi ruang kota. Penghijauan juga menjadi bagian penting untuk mempercantik sekaligus memberikan karakter baru bagi wajah Kota Sukabumi.
Fahmi mengatakan, keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Ia menemukan filosofi Tabebuya yang dianggap sangat relevan dengan kondisi Kota Sukabumi saat itu.
Salah satu filosofi yang melekat pada Tabebuya adalah harapan dan pembaruan.
Pohon tersebut umumnya berbunga setelah melewati musim kering atau masa sulit. Ketika bunga bermekaran, kehadirannya seolah menjadi penanda datangnya kehidupan baru, kesuburan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
“Filosofi tersebut terasa begitu selaras dengan semangat kita saat itu: bangkit dan tumbuh kembali setelah melewati masa pandemi COVID-19,” ungkapnya.
Kini, pohon-pohon Tabebuya yang dahulu ditanam dalam bagian dari penataan kota tersebut telah tumbuh semakin besar dan tegak.
Bagi Fahmi, keberadaan Tabebuya bukan sekadar elemen penghijauan atau pemanis jalan. Pohon-pohon itu menjadi bagian dari perjalanan Kota Sukabumi dalam melewati masa sulit dan menatap masa depan.
Tabebuya yang semakin rindang dan berbunga kini ikut membentuk wajah kota.
Lebih dari sekadar pohon penghias, bunga-bunga Tabebuya menjadi pengingat bahwa setelah melewati masa sulit, selalu ada ruang untuk tumbuh, berubah, dan kembali menaruh harapan.













