SUKABUMI — Prestasi gemilang pebulutangkis muda asal Kota Sukabumi, Muhammad Malik Jauharie, selama menjalani program beasiswa bulutangkis di China menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya. Pantas saja, darah bulutangkis Malik mengalir dari sang ayah, Dani Rusnindar yang merupakan mantan juara bulutangkis di Sukabumi yang kini menjadi pelatih dan berhasil mencetak para pemain handal.
Di usianya yang baru 15 tahun, Malik mampu memanfaatkan kesempatan menimba pengalaman di Negeri Tirai Bambu. Bergabung dan menjalani tryout bersama klub 1896 (Yi Pa Ciou Liyou) di Kota Datong, Provinsi Shanxi, China, Malik bahkan mampu menunjukkan performa yang membuatnya mendapat perhatian khusus dari pihak klub.
Bagi sang ibu, Kinanti Prameswari, kesempatan Malik berlatih di China sebenarnya berawal dari sebuah peluang yang tidak direncanakan.
Sang kakak, Aldira Rizki Putri, diketahui lebih dulu berada di China karena menjalankan aktivitas sebagai pelatih di klub tersebut. Dari situlah kemudian muncul tawaran kepada sejumlah atlet muda Indonesia untuk datang dan memperkuat promosi klub.
“Sebetulnya itu kesempatan karena ada kakaknya di sana. Kalau sengaja ke sana mungkin tidak ada link-nya. Kebetulan kakaknya melatih di sana, kemudian ada tawaran dari pihak klub untuk mendatangkan pemain yang bagus untuk memperkuat promosi,” ujar Kinanti, Jumat (28/8/2026).
Awalnya, terdapat sejumlah atlet remaja dari Manado, Sulawesi Utara, yang ditawarkan untuk mengikuti program tersebut. Namun, kesempatan itu akhirnya tidak seluruhnya terealisasi karena posisi atlet di klub sudah banyak diisi oleh pemain binaan mantan atlet nasional, Rexy Mainaky.
Di tengah persaingan tersebut, Siswa kelas IX SMPN 10 Kota Sukabumi ini justru menjadi satu-satunya atlet asal Sukabumi yang mendapat kesempatan bergabung.
Kinanti mengungkapkan, Malik mampu menunjukkan performa yang cukup menonjol dibandingkan atlet lainnya. Bukan hanya tampil kompetitif di lapangan, Malik bahkan disebut menjadi salah satu atlet favorit di klub tersebut.
“Malik malah yang paling unggul, bahkan jadi favoritnya, idolanya di klub,” ungkap Kinanti.
Performa tersebut membuat pemilik klub memberikan perhatian lebih kepada Malik. Bahkan, peluang bagi pebulutangkis muda Sukabumi itu untuk melanjutkan latihan di China masih terbuka lebar. Kesempatan tersebut tentu menjadi angin segar bagi perjalanan karier Malik yang masih sangat panjang.
Bagi keluarga, pengalaman selama berada di China bukan hanya soal kemenangan dan gelar juara. Malik mendapatkan fasilitas latihan yang lengkap, kebutuhan makan, hingga uang saku selama mengikuti program.
“Fasilitas termasuk uang saku, makan dan latihan terjamin. Semuanya free,” kata Kinanti.
Selama berada di China, komunikasi Malik dengan kedua orang tuanya juga tetap terjaga. Hampir setiap hari Malik berkomunikasi dengan ayah dan ibunya untuk menceritakan aktivitas serta perkembangan latihannya. Bahkan, Informasi mengenai kondisi Malik juga didapatkan keluarga melalui sang kakak yang berada di China.
Saat ini, menurut Kinanti, prioritas utama adalah menyelesaikan pendidikan SMP terlebih dahulu. Setelah lulus, keluarga akan membicarakan kembali pilihan terbaik bagi Malik, apakah melanjutkan pendidikan SMA di China atau tetap bersekolah di Sukabumi.
Kemungkinan mengikuti pembelajaran secara daring juga menjadi salah satu opsi apabila Malik kembali mendapat kesempatan memperpanjang program latihan di China.
“Untuk urusan sekolah akan diselesaikan dulu sampai tamat SMP. Dari situ mau lanjut SMA di China atau di Sukabumi nanti dibahas lebih lanjut. Kalau memang harus tetap di China, kan bisa belajar online atau daring. Intinya nanti kita cari solusi selanjutnya kalau program ini diperpanjang,” jelas Kinanti.
Kinanti mengaku tidak terlalu khawatir jika nantinya Malik harus kembali tinggal di China untuk melanjutkan program tersebut.
“Sebetulnya kita yang agak tenang kalau Malik bersekolah di China karena di sana ada kakaknya. Jadi kita nitipinnya tidak terlalu bingung,” tuturnya.
Sebagai orang tua, Kinanti mengaku tidak ingin membebani Malik dengan target yang terlalu tinggi. Namun, peluang untuk menembus Pelatnas PBSI tetap menjadi impian. Ia menyadari perjalanan menuju Pelatnas bukan perkara mudah. Apalagi Malik saat ini masih memperkuat klub daerah dan belum bergabung dengan klub besar.
Meski demikian, Kinanti percaya tidak ada yang mustahil selama peluang dan rezeki terbuka.

“Kalau target sekarang saya sudah tidak muluk-muluk. Untuk masuk Pelatnas juga mungkin sudah terlalu tertinggal. Tapi tidak ada yang mustahil. Kalau ada rezekinya, dia bisa masuk Pelatnas,” ujarnya.
Terlebih, Malik kini mulai berupaya mengejar poin melalui berbagai kejuaraan. Pengalaman bertanding di China pun diharapkan bisa menjadi modal penting untuk meningkatkan level permainannya.
Masa depan Malik selepas program di China kini menjadi salah satu hal yang tengah dipertimbangkan keluarga. Jika sepulang dari China nanti terdapat tawaran dari klub yang lebih besar di Indonesia, keluarga akan mempertimbangkannya. Namun, opsi untuk melanjutkan karier di China juga terbuka apabila peluang yang ditawarkan jauh lebih menjanjikan.
“Kalau memang nanti pulang dari China ada kesempatan masuk klub yang lebih besar, mau kita coba. Atau mau lanjut di China, segala sesuatunya mau dibicarakan dulu. Kesempatan di sini seperti apa dan peluangnya,” pungkasnya.
Kini, Malik Jauharie berada di persimpangan penting dalam perjalanan kariernya. Dari Sukabumi, ia mulai mencuri perhatian di China. Gelar juara sudah dikantongi, kepercayaan klub mulai didapat, dan pintu untuk melanjutkan karier di Negeri Tirai Bambu pun terbuka. Bukan lagi sekadar mimpi. Malik kini punya panggung untuk membuktikan bahwa talenta muda Sukabumi mampu bersaing hingga level internasional.












