SUKABUMI – Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi menggelar pelatihan pembuatan cangkang ketupat bagi masyarakat dalam rangka mengisi kegiatan Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan yang berlangsung satu hari pada Selasa (10/3/26) ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari pemustaka dan ibu rumah tangga. Pelatihan tersebut menjadi salah satu kegiatan positif menjelang waktu berbuka puasa.
Para peserta mendapatkan materi mulai dari pemilahan daun kelapa, teknik melipat daun kelapa, hingga membentuknya menjadi cangkang ketupat yang siap diproduksi.
Materi pelatihan disampaikan oleh Yeni Suwarni yang juga merupakan pustakawan. Ia menjelaskan bahwa bahan utama yang digunakan adalah daun kelapa muda yang ia bawa langsung dari kebun miliknya di Cikembar, Kabupaten Sukabumi.
“Bahannya yaitu daun kelapa muda yang saya ambil dari kebun sendiri di Cikembar, dan semuanya diberikan secara gratis untuk peserta pelatihan,” ujarnya.
Menurut Yeni, respon peserta sangat antusias mengikuti pelatihan tersebut. Ia menilai keterampilan membuat ketupat kini mulai jarang dimiliki masyarakat, padahal bahan bakunya cukup mudah ditemukan.
“Sekarang keahlian membuat ketupat sudah cukup langka, padahal daun kelapa mudah didapat. Makanya peserta sangat antusias mengikuti pelatihan ini,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Dispusipda Kota Sukabumi juga ingin mendorong masyarakat agar lebih berdaya secara ekonomi. Cangkang ketupat yang sudah jadi dapat dijual kembali sehingga memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat.
Dalam pelatihan tersebut, beberapa peserta bahkan sudah mampu membuat cangkang ketupat dengan baik setelah mendapatkan bimbingan langsung.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Dispusipda Kota Sukabumi, Krihsna Dwipayana mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS).
“Kegiatan pembuatan cangkang ketupat ini dalam rangka pengisi kegiatan Ramadan. Program ini merupakan bagian dari TPBIS yang anggotanya masyarakat Kota Sukabumi,” jelasnya.

Ia menuturkan bahwa melalui program tersebut, perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca buku, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
“Perpustakaan sekarang bukan hanya sekadar tempat membaca buku, tetapi juga memberikan edukasi dan keterampilan yang bermanfaat bagi masyarakat, misalnya pelatihan keterampilan seperti ini,” ungkapnya.
Menurutnya, pelatihan keterampilan seperti pembuatan cangkang ketupat, kursus bahasa, maupun kegiatan edukatif lainnya merupakan salah satu cara menarik minat masyarakat agar datang ke perpustakaan.
“Kita memberikan keterampilan yang nantinya bisa dimanfaatkan, bahkan bisa dijadikan sebagai usaha. Program seperti ini juga sudah berjalan hampir setiap tahun,” tambahnya.
Krihsna berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan ke depannya agar semakin banyak masyarakat yang memperoleh keterampilan baru sekaligus meningkatkan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran masyarakat.













