SUKABUMI – Yoseph Mahdi Yunansyah resmi menahkodai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Sukabumi Periode 2025-2029. Ia terpilih secara aklamasi pada kegiatan Musyawarah Olahraga Kota Luar Biasa (Musorkotlub) 2025 yang digelar (27/5) lalu.
Yoseph yang akrab disapa Aa Ocep ini menyampaikan, keterpilihan dirinya sebagai Ketua KONI merupakan amanat dan tanggung jawab yang berat. Namun demikian, dirinya akan berupaya maksimal berkolaborasi dengan Pengcab-Pengcab sesuai visi dan misinya.
“Terpilih secara apapun itu tanggung jawab berat. Ini adalah beban dipundak saya, jika sebut senang iya tapi lebih banyak bebannya,” kata Yoseph.

Di era kepemimpinannya di KONI ini, Yoseph akan mencoba menerapkan prinsip DKK atau Disipin, Komitmen dan Konsisten dalam menjalankan apapun. Ia mengaku prinsip DKK ini sudah ia tanamkan sejak kecil dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan kini prinsip DKK ia akan terapkan di dalam dunia olahraga.
“DKK adalah prinsip hidup saya dari dulu, karena memang dibentuk dari kecil saya sudah ditanamkan Disipin, Komitmen, Konsisten dalam menjalankan apapun, disiplin ini bersifat taat. Taat saat menjalankan norma, aturan dan lainnya, patuh pada aturan serta pengendalian diri dan tekun, selalu bekerja keras untuk mencapai tujuan,” ujar Yoseph ketika ditemui dikediamannya di jalan Siliwangi Kota Sukabumi, Minggu (15/06/25).
Menurutnya, hal itu harus diterapkan dalam mengambil komitmen, lalu seperti apa komitmennya? “Ya, dengan segala resikonya misalkan kita ingin menjadi pengusaha, komitmennya apa dengan pengusaha, maka aturan dan norma itu yang tak boleh dilanggar, jangan hanya berpikir bahwa dalam setiap usaha hanya untungnya saja, karena disitu ada resiko yang harus kita diambil. Yang kita targetkan adalah hasil dari usaha, baik untung maupun rugi karena itu menjadi suatu komitmen yang kita ambil,” imbuh Yoseph.
Ia berprinsip harus konsisten dengan kedisiplinan tadi, jika norma itu dilanggar maka bisa dikatakan tidak konsisten terhadap kedisiplinan. “Nah, maka dengan DKK ini kita coba terapkan juga kedalam dunia olahraga, disiplin dan patuh kedalam aturan olahraga, norma dalam olahraga seperti apa, ketekunan dalam olahraga bagaimana, bentuk kerja kerasnya kayak gimana untuk mendapatkan komitmen yang kita tanam,” kata Yoseph.
Yoseph menambahkan bahwa jika dalam proses olahraga tersebut pastinya akan mendapatkan hasil baik itu kalah ataupun menang. “Yang penting kita pegang kedisiplinan dan komitmen serta konsisten dalam menjalankan hasil tadi, selebihnya kita pasarahkan kepada Allah, kan sudah ditakdirkan siapa yang harus menang dan siapa yang harus kalah dan itu merupakan takdirNya,” ungkapnya.
Terlepas dari itu semua, Yoseph yakin dengan prinsip DKK yang ditanamkan di olahraga apalagi diimbangi dengan bekerja keras, maka ia yakin hasilnya akan bagus dan maksimal, tetapi menurutnya itu harus konsisten dalam menjalankannya. “Harus konsisten lah, contoh hari ini kita lari jam 7, besok kita lari lagi jam 8 maka itu tidak konsisten, terus sekarang 10 Kg dalam angkat besi dan besoknya 10 Kg lagi, maka itu bisa dikatakan konsisten,” ucap Yoseph.
Ia menyebut bahwa dalam hal prestasi olahraga maka para atlet harus presisten, atau kemampuan untuk terus berusaha dan tidak menyerah dalam mencapai tujuan atau mengatasi tantangan dalam olahraga.
“Ketika sekarang kita dapat medali perunggu untuk kota Sukabumi, maka kedepannya harus menjadi medali perak dan kedepannya lagi menjadi medali emas. Lalu bagaimana lagi presistennya, bisa saja hari ini si atlet bertanding di Porda, Porprov, nanti PON, hingga selanjutnya di Sea Games, maka untuk mencapai presisten tadi, cukup pegang DKK itu untuk meraih hasil yang presisten,” kata Yoseph.

Lalu, apakah ia optimis bahwa DKK atau Disipin, Komitmen dan Konsisten ini bisa diterapkan di lingkungan olahraga? “Kalau saya harus bilang di olahraga itu adalah tempatnya orang-orangnya sportif, dan ketika saya terapkan ini saya yakin akan bisa berhasil dan sempurna apalagi diterapkan pada orang-orang idealisme di bidang olahraga, bukan kepada orang yang hanya menempel di olahraga,” tegas Yoseph.
Indikator keberhasilan dan diraihnya prestasi menurutnya adalah karena hidupnya cukup memegang tiga poin seperti DKK itu. “Berhasil kan relatif ya, bisa berhasil lolos dari BK Porprov dan memenangkan medali karena itu merupakan hasil akhir. Saya yakin ini akan berhasil ketika ini diterapkan di KONI. Seperti saat ini, saya bisa begini karena menanamkan prinsip DKK, kakak saya (Dessy Ratnasari) bisa begini karena memegang prinsip DKK sejak kecil,” kata Yoseph.

Ia melihat bahwa saat ini rata-rata keberhasilan seseorang hanya dilihat dari muaranya saja, tidak melihat proses atau hulunya seperti apa. “Jika ingin menjadi seseorang yang berhasil di bidang apapun itu, maka harus siap menjalankan aliran mulai dari hulu hingga ke akhir yaitu hilir, kalau dia siap maka akan sama dan berhasil,” pugkasnya.












