SUKABUMI – Berkunjung ke Sukabumi tidak lengkap rasanya apabila tak membawa oleh-oleh mochi. Saat dibeli, makanan ini akan dikemas dalam dus atau besek. Bicara mengenai besek untuk wadah mochi, ternyata salah satu pemasok atau pembuat keranjang mochi ini dibuat oleh Sarah (50) warga Jalan Bhayangkara, Gg. Alhuda, Kelurahan Selabatu, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi.
Menurut Sarah, dalam sehari bisa memproduksi 100 keranjang kalau sedang banyak permintaan. “Untuk prosesnya cukup panjang karena tidak bisa sembarangan langsung dibuat, membutuhkan sinar matahari untuk menjemur bambu tersebut agar kering untuk menghindari jamur,” tutur Sarah.
Dia menuturkan semua pembuatan besek ia lakukan sendiri mulai dari membeli bambu utuh lalu di potong, lalu di iris tipis, lalu dijemur sinar matahari untuk menghindari jamur. Setelah itu penganyaman, pembentukan rangka dan yang terakhir membuat tutup keranjang.

“Membuat keranjang mochi, pertama kali saya menganyam yaitu sejak tahun 1995, belajar dari adik saya waktu itu di Kampung Selatamiang Babakan Jampang, Kelurahan Subangjaya dan belajarnya hanya tiga hari, waktu belajar sampai dapet 20 keranjang perhari,” kata Sarah.
Menurut Sarah, kesulitan membuat anyaman keranjang mochi adalah saat membuat dasarannya yang dianggap rumit. Selain itu, pinggiran dan bagian atas atau tutup keranjang pun harus dijemur terlebih dahulu hingga kering, setelah itu barulah dipasang secara utuh. “Seminggu paling banyak dapet 200 dan gak dapat honor dari adik saya karena niat saya saat itu hanya membantu adik saya,” ungkap Sarah.
Masih menurut Sarah, setelah belajar menganyam keranjang mochi selama seminggu dianggap cukup, ia pun mencoba membuat dan memasarkan sendiri. Bahan bahannya ia beli sendiri yaitu bambu panjang 50 Cm dengan harga 10Ribu rupiah jika ia beli dari kebun, dan 20Ribu beli dari tengkulak.
“Kebanyakan sih saya beli bambu itu di kebun daerah Cisarua. Setelah beli, bambu saya ukur dan gergaji sendiri dimulai dari ukuran tutup, ukuran bawah dan ukuran pinggiran, lalu saya menyerut sendiri. Dari satu batang saya kerjakan seharian untuk dianyam besoknya,” kata Sarah.
Alat yang digunakan Sarah cukup sederhana, hanya mengandalkan golok tajam dan gergaji. Proses penganyaman dilakukan dimulai dari biritan atau dasar, awakan atau pinggiran dan tutup, baru digabung menjadi 100 keranjang.
Untuk penjualan dimulai jika Ia sudah mendapatkan 500 keranjang mochi dan langsung dijual ke tengkulak dengan harga 40Ribu per 100 keranjang mochi. Dengan hasil yang masih minim ini dirasakan belum cukup untuk sarah dalam mengembangkan usahanya tersebut.
Bahkan Ia pernah ditawari oleh Istri RT saat Ia tinggal di Gg. Merak Jalan Bhayangkara berupa pinjaman modal UMKM dari pemerintah yang hingga kini tak kunjung ada.
“Saya sempat disuruh untuk mengajukan bantuan pemerintah berupa modal bagi UMKM lewat bu RT saat saya tinggal di Gg. Merak, tetapi sampai saat saya pindah ke tempat sekarang tidak ada tindak lanjut, padahal saya sudah memenuhi beberapa persyaratan seperti Kartu Keluarga, KTP dan foto usaha,” kata Sarah.

Semangat pantang menyerah Sarah untuk terus berusaha dan berkarya membuat anyaman keranjang mochi tak pernah berhenti hingga ia pindah ke Gg. Alhuda saat ini. Di tempat barunya tersebut, Ia bahkan mendidik dan mengajarkan emak-emak untuk belajar membuat keranjang mochi.
“Disini saya mengajarkan ibu-ibu tetangga untuk membuat besek mochi sendiri sehingga bisa membantu mereka mendapatkan penghasilan lah,” terang Sarah.
Keinginan Sarah untuk mengembangkan usahanya tersebut perlu diapresiasi dan mendapatkan dukungan dari semua pihak, termasuk Pemerintah Daerah Kota Sukabumi untuk membantu Sarah dari sisi permodalan.
Selain membuat anyaman besek mochi, untuk membantu kondisi ekonomi keluarga, Sarahpun berjualan sayur gudeg, buntil dan gorengan, sementara sang suami (Gito) berjualan bakso Malang keliling.















